2.1.11

Ciptakan Tradisimu Sendiri

”Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.” Sungguh, hal itu terngiang lagi di kesadaranku, karena ternyata permasalahan lama itu muncul kembali, diujarkan dengan bahasa yang lain oleh Harris Priadie Bah dalam diskusi teater yang diadakan oleh meja budaya hari Jumat tanggal 18 Juli 2003 lalu di PDS. HB. Jassin. Dengan bahasanya, Harris menyatakan bahwa teater modern Indonesia merupakan teater yang didirikan dengan tradisi pemusatan kuasa pada corak badan dan pikiran sang sutradara.

Hal ini juga untuk menjawab kegelisahan Nur Zein Hae yang melihat pemain masih sebagai subordinat dalam produksi teater. Tapi Nur Zein lupa, bahwa antara teater modern dan teater tradisi memiliki pola dan syarat yang saling berlainan. Teater tradisi hidup dan dihidupi orang-orang yang lebih homogen dan memiliki semangat lokalitas yang tinggi.Kalaupun toh kemudian ada yang memilih teater sebagai jalan, yang muncul kemudian adalah teater yang hidup dengan semangat memperbaharui yang terus-menerus dengan segala pencarian bentuk kreatifnya sebagai bahasa visual.

Tradisi cuma sekadar aksesori, bahkan terkadang sampai melawan tradisi. Itu pilihan. Jadi sangat aneh, kalau kita harus merujuk ke teater tradisi untuk menjawab permasalahan teater modern seperti yang ditawarkan Nur Zein.Seperti layaknya sebuah keluarga, seorang anak yang sudah merasa dewasa dan ingin mandiri, tentu ada keinginan untuk memisahkan diri dari keluarga besarnya dan membentuk keluarganya sendiri.Dan kalau itu dianggap kesalahan, saya kira, itulah sebabnya yang berkembang kemudian adalah teater sutradara.

Yang harus kita tumbuhkan sekarang ini adalah sebuah teater yang benar-benar tanpa hubungan dengan para pendahulunya.Maka tidak penting lagi dipertanyakan, teater sutradara atau teater aktor yang muncul, atau malah teater naskah, karena ternyata naskah yang tertulis lebih kuat dibanding aktor atau sutradaranya, misalkan. Semuanya telah selesai ketika itu didiskusikan dan digodok hingga menjadi sebuah ide bersama yang lebih matang dan jelas.

Read More......

16.10.09

Ekspresi wajah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.


Ekspresi wajah atau mimik
Manusia dapat mengalami ekspresi wajah tertentu secara sengaja, tapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat perasaan atau emosi manusia tersebut. Biasanya amat sulit untuk menyembunyikan perasaan atau emosi tertentu dari wajah, walaupun banyak orang yang merasa amat ingin melakukannya. Misalnya, orang yang mencoba menyembunyikan perasaan bencinya terhadap seseorang, pada saat tertentu tanpa sengaja akan menunjukkan perasaannya tersebut di wajahnya, walaupun ia berusaha menunjukkan ekspresi netral. Hubungan perasaan dan ekspresi wajah juga dapat berjalan sebaliknya, pengamatan menunjukkan bahwa melakukan ekspresi wajah tertentu dengan sengaja (misalnya: tersenyum), dapat mempengaruhi atau menyebabkan perasaan terkait benar-benar terjadi.
Sebagian ekspresi wajah dapat diketahui maksudnya dengan mudah, bahkan oleh anggota spesies yang berbeda, misalnya kemarahan dan kepuasan. Namun, beberapa ekspresi lainnya sulit diartikan, misalnya ketakutan dan kejijikan kadang sulit dibedakan. Selain itu, kadang-kadang suatu wajah dapat disalahartikan mengalami emosi tertentu, karena susunan otot-otot wajah orang tersebut secara alami menyerupai wajah seseorang yang mengalami ekspresi tertentu, misalnya wajah seseorang yang tampak selalu tersenyum. adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamatinya. Ekspresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia, namun juga terjadi pada mamalia lain dan beberapa spesies hewan lainnya.


Read More......

Teater

Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton") adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Univesitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai " yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

Read More......

14.7.08

Dunia ini panggung sandiwara

Dunia ini Panggung Sandiwara adalah frase yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It. Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang terkadang disebut sebagai tujuh usia manusia: bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon, dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.
Ini adalah salah satu bagian dari karya Shakespeare yang paling sering dikutip.

All the world's a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse's arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress' eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon's mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin'd,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper'd pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav'd, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything
Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166)
Sandiwara adalah sebuah pertunjukan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Jawa. Sebuah sandiwara bisa berdasarkan skrip atau tidak. Apabila tidak, maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi.

Read More......

30.5.08

SERAUT BAYANGAN DI LUKISAN

Kupu-kupu ke puncak biru, bila tengah malam
kerlip mata lampu kunang-kunang bertebaran,
jikalau telah terbang sayap cahayanya padam.

Mata penjajah berkedip pandang
bebuahan bergelantung di pinggir jalan menanjak
menawarkan kemanisan kenang tubuh tiduran
melamun melipat awan lembut menggulung,
di pepuncak pinus sedingin beludru perbukitan.

Barisan bangau merapat berat kesedihan ditinggal musim,
kabut memanggil diajak menuruni lembah ngarai mata air
gemericik melonjaki batu-batu mengaliri petak sawah,
merasuk ke persendian jiwa tanggai bunga lepas disapu ombak
terhanyut ke laut, berlayar mawar terhempas ke pantai-pantai.

Kerinngat menguap memanggang cawan di pundak,
tetesan tersuling hasrat membumbung ke awan
diikuti pusaran angin ke pegunungan badai,
menitipkan kabut perawan ke pucuk-pucuk.

Hawa malam mengelus segenap kulit jiwa bergetar
bara percakapan api di relung hitam berulang gelap
di sebelah senyuman terkumpul ragu pada seutas tali,
membenamkan bulan ke dada bintang berdegup di lukisan.


(Nurel Javissyarqi)

Read More......

24.5.08

Maafkan Aku Ibu

(Oleh: Nurul Kholifatur R.)

Kakiku terasa pegal banget, setelah berkeliling pasar sepulang sekolah. Aku pengen cepet-cepet nyampek rumah dan istirahat total, tapi sayang keinginan itu tak seeuai dengan kenyataan. Sampai di rumah ibu menyuruhku mengantarkan kue ke rumah Bu Rodliyah.

“Ibu nggak tahu apa kalau Ririn lagi capek, baru pulang kok udah disuruh ke rumah Bu Rodliyah, nggak mau ah,” tolakku.

“Rin, sebentar aja kok ya nak, kasihan Bu Rodliyah sudah lama menunggu kue pesanannya.” Dengan sedikit kesal aku ambil keranjang kue itu, itung-itung dari situlah aku bisa makan. Ayahku meninggal 17 tahun yang lalu.

“Assalamu’alaikum,” kataku ketika sampai di rumah Bu Rodliyah. Pintu dibuka dari dalam.

“Wa’alaikum Salam, neng cari siapa?tanya seorang pemuda di depanku.

”Anu mas, Bu Rodliyahnya ada?“ tanyaku sedikit salting.

”O pasti eneng Ririn ya, Ibu lagi pergi tapi Ibu udah titip pesa sama saya buat menerima kue yang dipesan Ibu di rumah Bu Mia yang biasa diantar anaknya,” kata Fauzi. Itulah namanya.

”Ini ya mas kuenya, saya pulang dulu udah sore,” pamitku. Fauzi hanya mengangguk.

Suatu pagi, Ibu menyuruhku kenyapu halaman tapi karena aku males, kutolah saja.

”Ibu nggak ngapa-ngapain kan, kerjain aja sendiri,” aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah ia tersinggung dengan kata-kataku. Beliau berlalu tanpa berucap kata.

”Rin, ibunya kok nggak dibantu nyanpu sendiri di halaman?” aku cuman geleng saja.

”Nggak baik lho Rin ngelamun, mendingan bantuin Ibu,” kata Fauzi padaku.

”Lagi males tahu, kalau mau bantuin Ibu udah sana pergi,”usirku.

”Ririn kok tega banget sama Ibunya,” keluh Fauzi.

Aku memang berubah, males bantuin Ibu, sukanya marah-marah terus dan Ibu diam saja. Mungkin Ibu kecewa padaku, selama ini kasih sayangnya pun berubah.

Suatu keli aku memberi kabar pada Ibuku bahwa aku diterima di UI Jakarta. Bukannya seneng, Ibu malah melarangku berangkat.

“Kamu nggak kasihan sama Ibu Rin, Ibu nggak punya siapa-siapa selain kamu. Nanti kalau Ibu sakit siapa yang ngurusin kalau bukan kamu,” katanya lembut.

”Bu, ini kesempatan Ririn buat maju, buat ngerubah hidup kita, lagian Ririn sekolah dengan beasiswa kan Bu, iya Bu ya, biarin Ririn pergi,” pintaku.

Ibu tak menjawab. Ia hanya menghapus butiran bening di matanya dan berlalu ninggalin aku gitu aja.

Aku tetap nekat berangkat, pengenku pamit sama Ibu, mencium punggung tangannya tapi Ibu menolaknya. Baru kali ini Ibu seperti ini. ”Sudahlah,” katanya menepis tanganku. Ingin kupeluk dia tapi dia menolaknya, kuputuskan pergi meski tanpa restunya.

Setelah di Jakarta aku sering mengirim surat pada Ibu, tapi Ibu tak pernah membalasnya. ”Ya Allah apa benar aku telah tergolong anak durhaka pada orang tua?” tanyaku setelah aku ingat akan semua perbuatan yang udah aku lakuin samaIbu. Kini aku menangis menyesal.

Liburan semester aku putuskan untuk pulang menengok Ibu, apapun yang aku terima nanti aku siap, demi memperoleh maafnya seorang wanita mulia dalam hidupku. Maafkan Ririn bu...... aku tercengang kaget ketika sampai rumah, ternyata Fauzi lah yang telah membantu Ibuku, membawakan keranjang-keranjang kue untuk diantar ke rumah para pemesan. Air mataku jatuh berlinang saat tahu betapa kesepiannya Ibu tanpaku, tapi kenapa aku selalu menyakitinya.....

”Biar Ririn aja bu yang bawa,” kataku tiba-tiba. Dua wajah itu meneloh padaku.

”He Rin, dua tahun di Jakarta kok nggak ada perubahan tetep sedehana dech,” kata Fauzi. Aku cuman tersenyum kutatap wajah Ibuku. ”Maafin Ririn ya bu, Ririn sadar Ririn udah terlalu banyak nyakitin hati Ibu, Ririn udah durhaka sama Ibu, mungkin Ibu benci sama Ririn tapi tolong bu, maafin Ririn.” Air mataku menganak bagai sungai. Ibupun demikian meski beliau tak berucap kata.

”Apa yang bisa ririn lakuin buat nebus salah Ririn Bu?” tanyaku sambil berlutut di depannya. Ibu memalingkan wajahnya, Ibu benar-benar sakit hati padaku.

”Jadi Ibu nggak mau maafin Ririn, percuma Ririn hidup Bu, Allah pun takkan meridhoi langkah Ririn karena engkau tak meridhoinya,”aku tertunduk penuh penyesalan.

”Kamu nggak minta maaf, Ibu sudah maafin kamu Rin,” Kata Ibu. Mataku berbinar bahagia, aku berdiri dan memeluknya. ”Makasih Ibu, Ririn janji bakal jagain Ibu.”

”Enggak nak. Kamu harus selesaikan kuliahmu.”

Fauzi tersenyum padaku. ”Rin, seorang Ibu adlaah mutiara dan taukah kamu kasih sayang Ibu tak pernah ada ujungnya.”

Aku bahagia, Ibu benar-benar wanita terbaik di dunia ini.

Read More......

15.5.08

Membaca Realitas melalui Panggung Teater

Dari Lampung

Persoalan kebangsaan yang melanda negeri ini, pada dasarnya tidak lepas dari minimnya pembacaan terhadap fenomena yang terjadi dalam realitas sosial. Banyak kalangan yang menilai, bahwa fenomena itu berdasarkan pada peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kurangnya membaca fenomena yang terjadi, menyebabkan kita tidak peka terhadap kondisi sekitar, terutama persoalan yang telah melanda negeri ini.

Realitas dapat kita pahami sebagai bentuk kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Adanya realitas, dapat dijadikan pegangan dalam membaca fenomena yang sedang atau akan terjadi di masa depan. Namun, yang perlu digarisbawahi dalam memahami realitas adalah berkaitan dengan objektivikasi persoalan aktual, yang pada akhirnya diangkat sebagai bentuk kreativitas dan keterampilan.

Memahami objektivikasi realitas sangat penting untuk diketahui secara integral, sebab pencapaian dari realitas akan diarahkan pada kepekaan individu dan sosial untuk mengembangkan lebih lanjut implikasi dari suatu persoalan. Dari kepekaaan inilah, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang valid dan mampu memberikan inspirasi untuk melahirkan karya fenomenal yang berkaitan dengan kondisi saat ini.

Dalam pandangan Maxim Gorki, seorang sastrawan asal Rusia, memahami realitas itu sebagai sebuah proses dialektis untuk menemukan kebenaran. Realitas bukanlah kebenaran itu sendiri, melainkan setitik proses menuju kebenaran. Kemampuan mengarang Gorki di sini, terletak pada kemampuan dalam membaca realitas sebagai referensi dalam memahami kehidupan yang lebih nyata.

Dalam memahami kondisi riil yang terjadi di masyarakat, kita mempunyai kelemahan dalam mengangkat realitas dalam berbagai pertunjukkan atau yang lebih dikenal dengan panggung teater. Dalam hal ini, kita seakan-akan tidak memiliki kemampuan yang utuh untuk mengangkat fenomena-fenomena yang sering berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan problem-problem kebangsaan yang sedang melanda bangsa ini.

Hal ini penting untuk kita kembangkan dan diangkat dalam sebuah pertunjukkan yang mengandung seni dan nilai-nilai moral yang dapat dijadikan referensi dalam memahami sebuah realitas. Kita mencoba melakukan terobosan baru dalam membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dialami bangsa ini Salah satunya adalah dengan media yang lebih bersifat edukatif dan inspiratif, yakni dengan memberdayakan panggung teater sebagai bentuk cerminan dalam mengkaji persoalan-persoalan yang sedang terjadi di masyarakat. Persoalan minimnya membaca realitas dalam kehidupan nyata menjadi penting untuk kita diskusikan bersama. Maka tak berlebihan, ketika perhelatan Festival Teater Jakarta (FTJ), yang dilaksanakan pada 20--31 Desember lalu, dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk merefleksikan ulang pergelaran tersebut. Dalam kondisi yang carut-marut ini, kita dituntut untuk mengangkat realitas kehidupan dalam panggung teater.

Perkembangan teater dalam konteks keindonesiaan saat ini, boleh dibilang mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini berdasarkan pada banyaknya seniman-seniman yang mulai mengembangkan panggung teater sebagai salah satu tujuan untuk membaca kondisi riil yang terjadi. Keberadaan seniman-seniman ini, paling tidak dapat membangkitkan perkembangan seni dan budaya yang ada di Indonesia.

Disadari atau tidak, panggung teater merupakan salah satu inspirasi untuk melihat secara nyata kondisi bangsa dengan berbagai fenomena yang terjadi, termasuk yang paling krusial semakin meningkatnya tindak pidana kejahatan dan musibah yang terjadi silih berganti. Panggung teater memang bukan merupakan fenomena sesungguhnya yang terjadi, tetapi dari panggung teater ini kita bisa mendapatkan inspirasi dan ide-ide segar untuk mengatasi persoalan kebangsaan.

Membaca realitas dengan panggung teater bukan berarti kita harus terjun langsung dalam kondisi sosial masyarakat. Akan tetapi, bagaimana sumbangsih kita dalam memberikan inspirasi dan solusi alternatif bagi persoalan kebangsaan yang sedang terjadi. Minimal memberikan sumbangan pemikiran atas fenomena itu ke dalam bentuk panggung teater.

Marco Kusumawijaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, pernah mengatakan bahwa mengangkat realitas adalah menjadi penting, agar panggung teater tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat. Bagaimanapun, teater harus selalu kembali pada realitas sebagai sumber inspirasi. Dengan mengangkat realitas tersebut, kita bisa menuangkan ide-ide segar yang berkaitan dengan penyelesaian persoalan bangsa yang tidak karuan.

Dalam panggung teater itu pula, kita bisa memasukkan kritik konstruktif kepada kalangan pejabat yang tidak berkompeten terhadap kinerjanya. Kita mempunyai kewajiban untuk melakukan kontrol sosial berupa masukan dan solusi dari persoalan yang menimpa pejabat pemerintahan. Dengan pesan moral yang ada dalam tema teater yang sedang dipertunjukkan, mudah-mudahan para birokrasi kita sadar terhadap tindakannya yang merugikan rakyat banyak.

Inilah salah satu nilai urgensitas panggung teater yang banyak diadakan oleh Dewan Kesenian maupun kalangan yang berkompeten terhadap perkembangan seni dan sastra di Indonesia, termasuk para penyair, sastrawan, budayawan dan seniman yang memiliki kapabilitas dalam bidang tersebut. Kita berharap, dengan pengembangan panggung teater yang ditunjukkan untuk mengangkat realitas sosial akan mampu memberikan inspirasi bagi semua pihak agar menyadari kesalahannya masing-masing, terutama yang berkaitan dengan persoalan bangsa saat ini.

- Mohammad Takdir Ilahi

Pencinta seni dan sastra, studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Read More......

Gagap Bahasa di Panggung Teater

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang banyak digunakan untuk berkomunikasi di negeri ini. Namun, kenyataan itu sepertinya tidak berlaku untuk dunia panggung. Faktanya, sangat sulit menemukan pertunjukan berbahasa Jawa yang baik, kecuali di dunia kesenian tradisional, seperti wayang atau ketoprak.

Hal tersebut bisa dibuktikan ketika Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Taman Budaya Jawa Tengah menggelar Festival Sandiwara Bahasa Jawa, Kamis dan Jumat pekan lalu. Keenam kelompok penyaji yang mewakili eks karesidenan di Jawa Tengah adalah kelompok dadakan alias diada-adakan karena ada festival. Mereka bukan merupakan teaterawan yang menjadikan pementasan berbahasa Jawa sebagai "darah daging" mereka.

"Penyelenggara sepertinya hanya mengejar seremonial tanpa memperhitungkan pembinaan sebelumnya," kata Hanindawan, tokoh teater di Solo, yang ditunjuk menjadi salah satu anggota dewan juri. Pembinaan yang dimaksud Hanindawan adalah memberikan fasilitas bagi pertumbuhan teater atau kelompok sandiwara berbahasa Jawa.

Festival itu memperlihatkan, selain Teater Gapit Solo yang eksistensinya kembang kempis, di Jawa Tengah sebenarnya tak ada lagi kelompok yang intens dengan bahasa Jawa. Walhasil, enam lakon yang dimainkan enam kelompok itu pun tergagap-gagap dengan bahasa ibu mereka sendiri. "Mereka sering kagok dengan idiom Jawa," ujar Hanindawan.

Semua kelompok penyaji yang terdiri atas anak-anak sekolah menengah atas itu memilih menggunakan pendekatan teater modern. Secara keseluruhan bisa dibilang tidak bisa ditemukan seni pertunjukan tradisi yang menjadi roh dalam pertunjukan sandiwara mereka. "Menyaksikan sandiwara berbahasa Jawa tak ubahnya melihat teater pada umumnya, hanya berganti bahasa tuturnya," kata Ayub, salah seorang penonton, memberi komentar.

Penuturan Ayub bisa dibuktikan lewat pementasan wakil dari Kabupaten Pati dengan lakon berjudul Minyik karya Dwi Riyanto. Kelompok ini sepenuhnya menggunakan pendekatan teater modern, dari set panggung hingga blocking pemain. Dalam iringan musiknya pun tak terdengar sentuhan gamelan karena mereka menggunakan organ. Mereka juga terlihat sangat ketat dengan teks, sesuatu yang tidak biasa dalam teater Jawa, yang longgar terhadap teks. "Namun, irama mereka terjaga, ditopang dengan kemampuan akting pemainnya yang merata," kata Hanindawan.

Aktor Teater Gapit, Pelog Sutrisno, menilai kelompok-kelompok penyaji terkesan berupaya mendekatkan diri dengan kultur Jawa. Ini dilakukan misalnya dengan mengusung properti orang-orang desa ke atas panggung. Cara tersebut justru membuat penampilan mereka terasa kaku dan tidak wajar. Apalagi ketika si aktor terjebak dengan ungkapan keseharian yang terkadang mencampurkan bahasa Jawa dengan ungkapan verbal yang asal-usulnya tak jelas. "Banyak penampilan mereka yang justru terjebak oleh idiom yang ingin dikesankan sebagai kultur Jawa," kata Pelog.

Kelompok dari Pati itu akhirnya dinobatkan sebagai penyaji terbaik. Sementara itu, kelompok dari Kabupaten Magelang ditetapkan sebagai penyaji terbaik kedua yang membawakan lakon Klilip karya E. Yuliastuti. Sedangkan kelompok dari Semarang, yang tampil dengan lakon Salah Pangerten, menjadi juara ketiga. "Selain pendekatan yang kagok atau tanggung, keterbatasan naskah sandiwara berbahasa Jawa merupakan persoalan tersendiri," kata Hanindawan

Terlepas dari kualitas penyelenggaraan festival tersebut, kata Hanindawan, kegiatan tahunan ini memang perlu mendapat apresiasi, kalau memang tujuannya mengembangkan bahasa Jawa berkaitan dengan seni pertunjukan. Hanya, dinas pendidikan provinsi seyogianya menyemangati pertumbuhan teater berbahasa Jawa, tidak sekadar membuat festival. "Paling tidak, festival ini memberikan kesempatan bagi penggiat teater Jawa untuk berekspresi," kata Pelog.

Imron Rosyid

Read More......

Panggung Sandiwara

Dari : LTS – Bali.

“Hiruk Pikuk Duniawi, Hanyalah Panggung Sandiwara”

Sudah sering sekali kita mendengar istilah seperti diatas, dan hal ini sering membuat orang-orang menilai bahwa di dunia ini hanyalah ilusi belaka, semua yang kita perbuat selama hidup akan kosong belaka.

Misalnya Si A yang membentuk keluarga bahagia, kaya raya, disegani teman, semua yang ada di dunia dia dapatkan. Namun saat Si A meninggal dunia, semuanya tak bisa dibawa, semua harus ditinggalkan, alias Nol / Kosong.

Apakah ini bukan Panggung Sandiwara ?, kalau memang demikian, lalu apa yang kita cari di dunia ini.

Kalau dilihat dari peran seseorang dalam panggung sandiwara, semua peran ada dan ada yang bermain dengan bagus, ada yang jelek. Bahkan pujian, penghargaan, kenangan akan didapat, baik saat berperan maupun setelah sandiwara selesai.

Nah, disini mulai terlihat bahwa bermain sandiwarapun membutuhkan keahlian, kemampuan, usaha dan sebagainya, sehingga nantinya menghasilkan suatu pujian, penghargaan, kenangan dan sebagainya. (inilah isi dari peran dalam sandiwara).

Bila dihubungkan dengan kehidupan manusia atau duniawi, dapat digambarkan seperti berikut :
Semua manusia di dunia mengenal adanya hidup setelah mati, entah itu yang menyebut ada surga dan neraka, Nirvana atau inkarnasi.

Setelah mati, orang mengenal adanya roh / sukma, atau hidup setelah mati.
Disini kalau Si A hidup, saya sebut Si A (H), maka setelah mati saya sebut Si A Sukma / Si A (S).
Saat Si A (H) hidup, dia bekerja dengan giat, banyak beramal, berbakti, dan banyak melakukan perbuatan baik, sehingga dia hidup bahagia dan kaya raya.

Setelah si A mati, memang bagi Ego Si A (H), semua yang dia dapatkan menjadi Nol / Kosong.
Tetapi tidak demikian bagi Si A (S), semua yang diperbuat oleh Si A (H) adalah bekal bagi Si A (S) untuk hidup di dunia setelah mati juga bekal untuk inkarnasi berikutnya.

Demikian pula bagi keluarga dan teman-teman si A, apa yang telah Si A perbuat, itu semua adalah berguna alias berisi bagi mereka.

Jikalau Si A (H) merasa bahwa di dunia ini kosong, mungkin Si A (H) memang Egois, bahkan tidak memikirkan kepentingan Si A (S) yang notabene adalah dirinya sendiri.

Kesimpulannya :
“HIRUK PIKUK DUNIAWI, BAGAI PANGGUNG SANDIWARA
SEAKAN TAK BERARTI, NAMUN PENUH MAKNA
BAGAIKAN ILUSI, NAMUN PENUH KENYATAAN
BUKAN LAGI KOSONG, TAPI PENUH BERISI”

Semoga kita semua bisa menapaki hidup ini dengan penuh keindahan dan memberikan kenangan indah, membawa penghargaan dan bekal untuk masa mendatang, tentunya dengan SIU TAO.

Read More......

30.3.08

Perempuan

Perempuan itu Menapaki Pasir di Pinggir Laut dengan Sepasang Kaki Telanjangnya

(Lubis Grafura)

Masihkah ada orang yang percaya bahwa di laut ada seekor putri duyung yang tiap subuh selalu muncul di pinggi laut? Di punggungnya tergerai rambut panjang yang terlepas dari sampul sanggul. Putri duyung itu menapaki pasir di pinggir laut dengan sepasang kaki telanjang, namun ombak akan segera menghapus jejak kakinya di pasir. Seolah kecantikan dan segala bukti tentang duyung itu dilipat sembunyikan oleh alam.

Ikan duyung? Dengan sepasang kai telanjang?

Pertanyaan itu yang sering muncul ketika aku mulai menceritakan hikayat seorang putri duyung yang setiap subuh selalu berjalan menelusuri pasir di pinggir laut dengan sepasang kakinya yang telanjang.



Aku kira tidak ada yang aneh dengan ceritaku. Seorang duyung memang telah menginginkan dirinya menjadi manusia, dan itu benar-benar terjadi. Toh, apa salahnya seekor hewan (kalau duyung dalam biologi memang di golongkan sebagian dari hewan, sehingga kusebut seekor bukan seseorang) hendak ingin menjadi manusia daripada manusia yang tak pernah merasa dirinya menjadi bagian dari manusia. Bukankah kehendak Gusti selalu bisa saja terjadi.

Duyung itu bisa memakai sepasang kakiny pun ekornya. Ia cukup meniupkan nafas di kepalan tangan, lalu menyentuhkan di ekornya, maka seketika itu ekor yang terbungkus dengan sisik akan berubah menjadi sepasang kaki yang indah. Dan kaki itu, aku mencerikatannya dengan berapi-api sehingga orang-orang yang mendengarkan ceritaku seolah percaya aku benar-benar melihatnya adalah sepasang kaki terindah milik seorang perempuan yang pernah kuliahat.

Sepasang kaki? Akan digunakan apa olehnya?

Ini adalah cerita yang sangat panjang. Betapa sedih atau pahitnya sebuah cerita dalam kehidupan ini, mustilah diceritakan. Pun cerita mengenai seekor putri duyung dengan sepasang kaki tenjang yang ditapakkan di pasir pinggir lautan untuk mencari ayahnya.

Ayah?

Ya, seekor duyung itu mencari ayahnya yang kini pergi entah dimana. Semenjak kecil ia tak pernah melihat ayahnya, hingga ibunya menceritakan bahwa dirinya memiliki seorang ayah. Ayahnnya adalah seorang pelaut ulung yang tak pernah takut dan gentar melawan gelombang dan hantaman badai.

Ayahnya adalah seorang lelaki yang gagah berani. Pada suatu kali perahu yang ditumpanginya menabrak sebuah karang saat badai mengaduk-aduk ombak laut.lelaki itu terdampar pada sebuah pulau kecil dan indah.

Tidak ada yang tahu persis dimana letak pulau itu, aku segera menjelaskannya daripada mengunggu mereka memotong ceritaku untuk minta dijelaskan. Petapun tak pernah melukis pulau itu. Bahkan satelit tercanggihpun tak dapat menangkap seonggok pulau yang terdapat pada cerita ini. Konon, menurut cerita, pulau itu bisa tenggelam dan muncul di permukaan. Pulau itu disebut pulau bidadari.

Pulau itu disebut pulau bidadari karena orang-orang sekitar laut itu sering melihat bidadari di atas tanah itu pada malam hari. Dan penduduk setempat lebih sering menemui kemunculan pulau itu pada saat malam bulan purnama. Kata mereka yang pernah melihatnya, di pulauitu terdapat pepohonan di tengah segunduk tanah, bebatuan halus yang tengah memancarkan cahaya rembulan, juga pasir berkilau memancarkan cahaya rembulan, juga pasir yang seputih gula tempat para duyung menjemur diri di bawah rembulan, mirip dengan turis-turis yang memanggang tubuh mereka di atas pasir.

Telanjang?

Tentu saja! Tentu mereka tidak pakai BH atau apa sejenisnyalah. Jelasnya, mereka tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Kalaupun ada Undang-undang Anti Pornografi tentu mereka akan terkena lebih dulu, begitu kata salah seorang dari orang-orang yang kini berada di depanku untuk mendengarkan cerita. Tawa memekak sejenak, tapi mereka kembali mendengarkan ceritaku.

Seseorang memntaku untuk menceritakan bagian bentuk tubuh para duyung yang sedang bertelanjang. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa duyungpun memiliki sepasang payudara dengan lingkaran punting ditengahnya, tapi mereka tidak memiliki pusar. Rambut mereka panjang, dan itu sudah menjadi kebiasaan duyung membiarkan rambutnya tergerai jatuh di atas pundahnya yang langsat. Mereka tidak punya kaki tentu saja, ya seperti yang diceritakan orang-orang bahwa duyung tak berkaki, tetapi berekor dan bersisik.

Mereka juga menstruasi setiap bulan. Kalau mereka sedang menstruasi, mereka akan berbau amis. Sudah menjadi kebiasaan para duyung , jika salah satu dari mereka sedang menstruasi, mereka harus tinggal di suatu tempat bersama duyung-duyung lainnya hingga mereka suci kembali.

Tidak ada duyung lelaki, begitu jawabku ketika salah seorang pendengar bertanya kepadaku apakah ada duyung lelaki yang menggauli pada duyung perempuan hingga mereka bisa memiliki anak. Tidak, duyung tidak punya suami, kuulangi jawabanku sekedar menegaskan kepada mereka.

Sebuah fenomena yang unik, memang. Setiap duyung akan hamil dengan sendirinyna. Seklus menstruasi itu berlangsung setiap dua bulan sekali, dan pada usia tertentu si duyung akan mengeluarkan cairan berwarna ungu, dan itu bukan darah. Itu adalah pertanda bahwa duyung tersebut sudah dewasa. Dan dua bulan berikutnya, sudah dipastikan bahwa duyung itu hamil. Dalam seumur hidup, duyyung dapat melahirkan tiga sampai empat anak.

Lalu, dimana letak rahim duyung itu?

Sama seperti letak rahim manusia, kujawab singkat pertanyaan salah satu pendengar yang sendari tadi lebih tertarik kepada ketelanjangan duyung dari pada inti ceritaku. Tapi, sebagai pencerita yang baik aku harus menjawab semua pertanyaan yang muncul di benak para pendengar.

Bisakah kau jelaskan lagi inti cerita mengenai seorang perempuan bertelanjang kaki yang menapaki pasir laut setiap subuh seorang diri dan ayahnya?

Pertanyaan ini sudah kutunggu sejak tadi. Ubun-ubunku sudah mendidih tak tahan untuk segera menceritakan kisah ini.

Ini berawal dari seorang pelaut lelaku yang gagah berani dan perahunya yang terdampar di Pulau Bidadari. Seekor duyung menemukan sesosok tubuh tengah terdampar di pasir. Duyung itu kemudian membawanya ke rumah. Dengangemetar, duyung itu menunggu lelaki itu sadar.

Ia gemetar, karena ia tahu bahwa resiko yang diambilnya terlallu besar. Ada sebuah peraturan yang musti dijalani oleh para duyung. Mereka melarang perasaan cinta kepada manusia (lebih-lebih lelaki). Itu adalah haram dan dosa. Membiarkan perasaannya mencintai lelaki, itu sebagai perilaku yang rendah di kehidupan para duyung.

Tapi perempuan itu, maksudku duyung itu mempunyai perasaan keduyungan. Seperti halnya menusia yang punya rasa kemanusiaan. Rasa keduyungannya itulah yang mengantarkan dirinya untuk berbuat hal demikian: menolong lelaki walaupun dirinya tidak boleh menyentuh, melihat atau berbicara dengan lelaki.

Setalah lelaki itu sadar, perempuan itu sangat berbahagia. Lelki itu bertanya dimanakah kini dirinya berada, dan perempuan itu sambil tersenyum menjelaskan dimana lelaki itu kini berada. Senyum itulah yang membuat lelaki itu merasa jatuh cinta.

Lelaki yang kini berada jauh dari permuakaan air itu dilarang keluar oleh duyung yang menyelamatkannya. Ia harus tinggal di sebuah cangkang raksasa hingga luka ditubuhnya pulih dan perempuan yang menolongnya beberapa waktu yang lalu itu harus naik kepermukaan air untuk mengambil udara ke dalam kantong-kantong.

Pada suatu malam, karena di permukaan laut selalu malam, perempuan itu menuang udara dari kantong untuk lelaki yang kini tinggal di rumahnya tapi entah bagaiman detail ceritanya perempuan dan lelaki itu saling bertatapan. Ada semacam kobaran api yang menjelma menjadi hasrat dalampandangan itu. Mereka bertatapan dengan nyala ragu. Putri duyung itu bibirnya menceracau untuk tidak melakukannya, tetapi tubuhnya memberikan isyarat kepada lelaki itu untuk disentuh dan diberikan seutuhnya. Dan hasrat mereka terlukis pada nyala lilin yang tertiup semilir angin.

Kuhentikan ceritaku sejenak, biarlah para pendengar melanjutkan imajinasi ini menurut pikiran masing-masing sebagai pencerita yang baik, sekali lagi aku memberikan ruang yang sebebas-bebasnya kepada pendengar untuk merangkai cerita itu menurut pengalaman diri pendengar masing-masing.

Yang terjadi selanjutnya adalah, ada salah satu duyung yang tak sengaja datang masuk ke rumah itu dan menjumpai seorang lelaki itu. Kabar melesat secepat mata angin yang dilepaskan dari busur cakrawala. Dan seluruh pulau bidadari itu gempar.

Kau harus pergi sekarang, kata duyung kepada lelaki, kau tidak aman disini. Tetapi lelaki yang gagah berani itu tidak mau meninggalkan kekasihnya seorang diri menghadapi maut yang sudah mengintai dari balik ilalang yang tumbuh didasar laut. Perempuan itu memohon, air matanya mengalir seperti mutiara yang mengalir disungai kering. Melihat bahaya dan permohonan dari mata kekasihnya, lelaki itu akhirnya menuruti apa yang diharapkan perempuan yang kini telah menjadi detak jantungnya dan udara untuk nafasnya.

Cepat, kata perempuan itu, kau harus pergi sekarang. Perempuan itu memberikan buntalan kain saputangan kepada lelaki itu dan beberapa kantung udara untuk persediaan jika ketika menuju permukaan, paru-paru dalam tubuhnya membutuhkan udara.

Sebelum sempat bertanya apa isi buntalan kain saputangan itu, perempuan itu segera menjelaskan bahwa buntalan itu terdapat puluhan mutiara, sehelai benang, dan sebuah jarum pasak laut. Ketika lelaki itu sampai di daratan duyung itu berharap bahwa lelaki itu mau menyulam mutiara itu dengan jarum dan menyatukan mutiara itu dalam satu helai benang yan g jika pada suatu hari ada seorang perempuan cantik berambut panjang yang lepas dari sampul sanggulnya dan dia berjalan dipinggir laut menapaki pasir dengan sepasang kaki telanjang saat subuh menyelimuti langit malam itu adalah pertanda bahwa perempuan itu adalah anaknya. Berikan kalung itu, kata duyung, dan nyanyikan doa ini jika anak kita belum datang.

Duhai anakku, kemarilah datanglah kepada ayah. Kehidupan laut yang kejam semoga cepat berlabuh di daratan, pulanglah kepada ayah nak, dekatkan wajahmu kepadaku, tataplah mataku aku akan mengalun gkan rangkaianmutiara dari ibumu ini di lehermu. Duhai anakku, kau lahir di dunia atas kehendak Yang Kuasa, kau tercipta atas dasar cinta. Kalaupun kau terlahir dari sepasang duyung dan manusia hina, kau adalah anakku yang terlahir tanpa dosa. Biarlah orang tua ini yang menanggung dosa yang pernah diperbuat di masa lalu, hingga malaikat dengan sepasang sayap bosan mengelilingi roda waktu.

Lelaki itu akhirnya pergi menghentakkan kakinya dan melesat keatas permukaan laut. Perempuan itu tersenyum bahagia, kalaupun di hatinya terbersit kecewa kenapa pertemuan itu selalu dibatasi oleh perpisahan, tapi perempuan itu merasa lega karena penderitaan yang kini berada di hadapannya tak perlu lagi dengan lelaki yang dicintai.

Sekelompok duyung datang sambil membawa kobaran api menyeret perempuan yang telah melakukan dosa dan zina. Tali sebesar du jari telah mengikat paksa kedua tangan duyung, pun seutas rantai telah berkalung dilehernya yang kini penuh dengan luka, sehingga tak satu matapun bisa membedakan antara bekas luka dan bekas sepasang bibir lelaki yang kini entah berada dimana.

Perempuan itu diseret dengna tangan terikat dibawa ke Batu Peradilan, disanalah keputusan akan menentukan apakah maut atau penderitaan seumur hidup yang akan menjadi garis takdirnya. Perempuan dengan tangan terikat itu didudukkan paksa hingga jatuh tersungkur di bawah kaki Raja Laut. Semua mata jatuh kepada seekor duyung yang tak berdaya. Raja Laut memandang duyung yang kini bersujud di depannya. Mukanya lebam oleh hantaman, darah segar mengalir segar bersama linangan air mata.

Raja Laut itu tak berkata apa-apa kepada duyung, ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengasingkan duyung itu di Lembah Laut. Lembah Laut adalah sebuah penjara yang seburuk-buruknya tempat. Hewan-hewan buas bisa menjelma apa saja disana. Kata semua orang, tak pernah ada yang bisa kembali dengan selamat dari tempat yang terkutuk itu.

Ceritakanlah sekarang, kami mohon.

Semua pendengar mengarahkan tatapan harapan kepadaku, setelah kukatakan kepada mereka aku tak mau melanjutkan cerita. Salah satu dari mereka ada yang menangis, terutama yang perempuan.untuk sejenak, tidak ada yang berkata. Suasana hening. Seolah daun-daun pepohonanpun terdiam menunggu keputusan yang akan keluar dari bibirku.

Ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan itu hidup atau mati. Juga lelaki yang dicintainya. Bukankah setiap cerita yang pedih sekalipun harus diceritakan, bukankah kau setuju dengan ini. Ayolah, kami menunggu nasib perempuan itu dari cerita yang keluar dari bibirmu. Kami mohon....

Setelah tiga bulan perempuan itu kembali.

Orang-orang yang kini berada di depanku itu tersenyum sementara sebelum kulanjutkan cerita, beberapa dari mereka meluapkan rasa senangnya dengan mengatakan lega kepada orang-orang di samping tempat duduknya.

Lalu?

Lalu semua penghuni laut sangat terkejut. Semua benak seolah dijejali dengan puluhan pertanyaan dan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana perempuan itu bisa lolos dari maut. Menurut cerita, perempuan itu kehilangan sebelah tangannya ketika melawan makhluk buas di Lembah Laut. Dan perempuan itu bersimpuh di depan Raja Laut. Perempuan itu sudah siap menghadapi takdir yang akan tergaris dalam hidupnya.

Raja Laut tidak menjatuhkan hukuman kepada perempuan yang saat itu sedang mengandung, tetapi Raja Laut menyuruhnya pulang menunggu bayi duyung itu terlahir, barulah perempuan itu akan diberi hukuman. Perempuan itu mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan tempatnya berdiri. Dan kabar kembali menjelma menjadi arah mata angin yang melesat dari busur cakrawala mengabarkan bahwa seorang bayi perempuan telah lahir. Dari sorot matanya, kecantikan bayi itu bakal tak ada yang bisa menandinnginya, bahkan sel;uruh penjuru samudra.

Duyung itu menepati janjinya untuk menghadap sang Raja Laut untuk menjalani hukuman. Duyung itu bersimpuh dengan bayi yang terbungkus kain tertidur didekapan dadanya. Raja Laut takjubmelihat bayi itu. Bawalah bayimu pulang, kata Raja Laut itu, lalu susuilah bayimu hingga ia tersapih dan kembalilah kau ke sini lagi.

Perempuan itu mngucapkan terimakasih dan pulang ke rumah. Ketika melihat wajah bayinya, ia melihat wajah kekasihnya yang kini entah berada dibelahan bumi mana. Tapi, sebagai seorang perempuan ia sudah mampu mempertahankan sebentuk cintanya yang badai ombak tak mampu menggoyahkan karang cintanya.

Hingga suatu waktu, perempuan itu datang kembali ke hadapan Raja Laut untuk meminta hukuman. Perempuan itu memberikan bayinya kepada seekor duyung yang telah menjadi sahabatnya semenjak kecil. Ia menitipkan bayinya dengan segenap harap dan air mata. Duyung itu mengangguk tanda mengerti. Dan hukuman musti dijalankan.

Pengawal menanam tubuh duyung itu hingga tampak leher dan kepalanya. Seluruh penghuni samudra harus melempar batu kearahnya. Batu-batu yang mengukir darah dikepalanya tidak dirasakan sebagai suatu hukuman yang pedih dan menyakitkan, tetapi adalah sebentuk cinta. Di dalam hatinya sudah dimaknai arti cinta yang sebenarnya. Cinta tidak hanya sebentuk rasa bahagia, tetapi juga segores luka lara. Hingga bebatuan terserak diatas sebuah kepala yang kini terkulai luka dan darah.

Sebuah isyarat bahwa hukuman sudah berakhir. Semua orang pergi seolah tak pernah ada yang terjadi. Duyung dengan bayi yang kini di dekapnya berlari ke arah kepala yang kini tak bernyawa. Perempuan itu menangis memeluk kepala yang bersimbah darah. Tangisanpun terpekik dari bayi yang secara naluriah merasakan apa yang disebut dengan kepedihan.

Tak pernah ada yang tahu kelanjutan cerita itu hingga kita sering melihat seorang perempuan berjalan dipinggir laut dengan rambutnya yang lepas dari sanggul dan ia berjalan dengan sepasang kaki telanjang yang ombak selalu menghapus jejak kaki itu, seolah alampun berduka dengan sebait cerita kehidupan dan menyembunyikan cerita itu di balik waktu yang berlalu. Dan jika ada yang bertanya tentang ayah perempuan itu, akan kukatakan sebagai penutup cerita, tak pernah ada yang tahu.


Read More......

SINETRON

(David Tri R. ; 2006)

Awal ’90-an, dunia perfilaman Indonesia sedang mengalami lesu darah. Hal ini terlihat dari produsi film Indonesia yang makin menyusut. Kalaupun ada produksi, masih dengan tema-tema lama dan kualitasnya pun masih diragukan. Saat itu tema-tema kolosal dan peperangan tetap digarap. Indikasi lain lesunya perfilman kita adalah mendominasinya film-film impor yang mengantri untuk diputar di bioskop-bioskop kita. Mulai dari film Hollywood, Jepang, Cina hingga film-film Bollywood India. Bila kita coba menengok ke papan jadwal bioskop waktu itu maka judul-judul seperti Knock Off, Predator, Rambo-dengan berbagai versi, Ninja & Samurai, Restorika Meiji, Shaolin Kungfu, One Upon Time In China dan beberapa judul India Lainnya, sedang ramai-ramai diputar. Jarang sekali judul-judul film Indonesia yang terpampang. Kalaupun ada maka film-film itu adalah produksi lama dan film-film panas. Hingga klimaksnya adlah muncul pertanyaan: Film Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.



Saya tidak tahu kenapa kondisi perfilman kita saat itu sedang lesu-lesunya. Di sisi lain kondisi waktu telah menjadi pemicu para sineas kita untuk memproduksi film dengan bentuk lain. Mkaa muncullah yang namanya film televisi. Film ini diproduksi dengan konsep untuk diputar dan disiarkan melalui televisi. Film televisi ini berdurasi sekitar 1,5 – 2 jam dan sekali cerita selesai. Akhirnya film televisi ini berkembang dan melahirkan sebuah bentuk lain yang disebut sinema elektronik atau yang lebih dikenal dengan Sinetron. Bentuk baru ini, sinetron, memiliki perbedaan dengan film televisi di sisi durasi, sekitar 30 -60 menitan dan ceritany berseri.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa film televisi, sedikit atau malah tidak diproduksi lagi. Mungkin karena biaya produksinya yang lumayan besar dan juga selalu dibutuhkan cerita-cerita baru yang beda sedangkan stock untuk cerita sangat kurang.

Pada malam itu saya menontong TV bersama ibu saya, dipilih-pilihnya acara di TV melalui remote. Hampir semua saluran saat itu menyajikan sinetron. Kemudian beliau berkomentar: “Sinetron-sinetron saat ini suma gitu-gitu aja”. Beberapa saat saya berpikir, apakah komentar ini mewakili kebosanan yang dirasakan oleh pemirsa sinetron yang lain? Apakah ini menjunkkaj sebegitu merosotkah kualitas darti tontonan yang bernama sinetron?

Sinetron seakan menjadi menu utama sajian di saluran televisi. Kalau kita cermati alokasi waktu untuk sinetron (dengan segala variasinya) ini hampir 25 % dari total waktu tayang. Bahkan saya pernah temui, setelah sinetron satu selesai langsung dilanjutkan dengan sinetron berikutnya. Kita sadar itu memang hak stasiun televisi untuk menentukan jadwal acaranya. Tapi kita juga punya hak sebagai pemirsa ’kan, untuk mendapatkan siaran yangberkualitas dari stasiun televisi yang ada di negeri ini?

Apakah sinetron kita saai ini sudak tidak berkualitas?

Mari kita flash back sejenak. Tidak dapat dipungkiri bahwa film Ada Apa Dengan Cinta, yang bertema remaja, menjadi tonggak bangkitnya kembali perfilman kita. Kemudian diikuti oleh Eifel I’m Love, yang juga mengedepankan dunia remaja, mendapat sambutan yang antusias. Hal ini semakin memperjelas kebangkitan perfilman kita. Tapi apa yang terjadi dengan sinetron kita? Sinetron kita malah membeo. Sinetron-sinetron remaja banyak diproduksi. Seri-seri baru muncul. Televisi penuh dengan remaja-remaja yang bergaya ala metropolis.

Beberapa waktu kemudian, salah satu stasiun televisi menyajikan sinetron yang berbau horor-mistik. Dan itu mendapat rating tinggi. Akhirnya riuh ramai sinetron remaja penuh gaya itu mulai tergusur. Hampir semua stasiun televisi menyajikan sinetron dengan tema-tema horor-mistik.

Suster ngesot tampil di stasiun A, kuntilanak tampil di stasiun B dan pasukan hantu lainnya tampil di stasiun yang berbeda.

Kabar termutakhir dari stasiun kita, tema yang sedang ramai adalah sinetron religius. Cerita-cerita yang berbau agama mulai diangkat. Tokoh pemuka agama mulai hadir baik dalam cerita maupun diakhir cerita sebagai penegas bahwa ini adalah sinetron religius. Lagi-lagi hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron yang bertema religius. Tapi apa yang terjadi kemudian? Yang katanya sinetron religus itu mulai berbelok arah lagi menjadi sinetron religus-mistis. Ironisnya cerita yang diusung malah jauh dari nilai-nilai religius. Entah setelah ini tema apa yang akan mewabah di sinetron kita.

Selain tema yang bersifat musiman, sinetron kita juga tidak realistis. Maksudnya adalah cerita-cerita yang diangkat oleh hampir semua sinetron kita adalah jauh dari kehidupan nyata meyoritas pemirsanya. Saat tema remaja mewabah, tokoh-tokoh remaja disitu digambarkan kaya, serba berkecukupan: bermobil dan menenteng Hp, baju warna-warni yang mahal. Dan jika menampilkan anak sekolah pasti baju semaunya sendiri. Atau jika sinetron itu adalah sinetron keluarga pastilah cerita yang diangkat adalah cerita metropolis dengan tokoh yang mapan. Seperti sebuah keluarga yang kaya, punya perusahaan, terjadi perselingkuhan, perebutan harta ...., Apakah itu memang menggambarkan masyarakat yang sebenarnya? Cerita yang tidak realistis seperti ini cenderung memberikan pelajaran yang kurang baik bagi pemirsanya atau tidak mendidik. Bukankah selain hiburan kita juga membutuhkan pengetahuan dan pelajaran yang baru dari sinetron.

Akhir-akhir ini muncul lagi tema baru yang coba diusung, sinetron komedi dewasa. Ditayangkan tengah malam, ceritanya komedi dengan bumbu-bumbu sex. Diperindah dengan pemain-pemainnya yang berpakaian seksi. Tapi bagaiman aceritanya? Ah, tak lebih dari cerita murahan.

Kadang timbul pertanyaan, apakah tema yang musiman seperti itu dibutuhkan oleh pemirsa, atau memang sengaja dijejalkan?

Alternatif baru

Di tengah hingar bingar beraneka ragam sionetron itu, hadir sebuah sinetron yang benar-benar besa. :Kiamat Sudah Dekat” yang disutradarai oleh Deddy Miswar itu menjadi alternatif baru. Seolah ingin melawan arus. Sinetron ini begitu komplek dalam segala hal. Tema remaja dan religius juga diangkat. Cerita yang dikedepankan juga ringan namun realistis. Dari segi penulisan cerita diterapkan dengan apik dan manis. Dan yang terpenting ada pengetahuan dan pelajaran baru yang dapat diperoleh bagi pemirsanya.

Tidak salah jika sinetron ini mendapat anjungan jempol dan merupakan sinetron favorit SBY. Sinetron ini mampu menggambarkan masyarakat Indonesia sesungguhnya, begitulah kira-kira beliau pernah berkomentar. Tidak itu saja, beberapa waktu yang lalu Kiamat Sudah Dekat juga mendapatkan penghargaan sebagai sinetron terbaik, penulisan cerita terbaik dan sutradara terbaik.

Apakah yang lain mampu menandinginya?

Pelaku sinetron

Sesungguhnya perkembangan kualitas sinetron bertumpu pada para pelakunya sendiri. Siapakah merteka ini? Pemirsa atau penonton adalah pelaku pasif dari sinetron. Meski bagitu mempunyai pengaruh yang mengapresiasi melalui kritik dan saran, tidak hanya sekedar duduk di depan TV dan menikmatinya.

Sedangkan pelaku aktifnya adlaah pada pekerja sinetron yang bernaung di bawah bendera Production House, artis termasuk di dalamnya, dan stasiun televisi. Suatu langkah penting bagi pelaku aktif adlah menghasilkan dan menyajikan sebuah karya yang berkualitas dari segala sisi, tidak hanya ikut-ikutan. Dan yang lebih penting mamiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat negeri ini.


Read More......

28.3.08

Sejarah Film Indonesia

Pertunjukan film di Indonesia sudah dikenal orang pada tahun 1990, sebab pada tahun itu iklan bioskop sudah termuat di koran-koran. Sedang pembuatan film, baru dikenal tahun 1910-an. Itu pun sebatas pada pembuatan film dokumenter, film berita atau film laporan. Pada tahun 1926, barulah dimulai pembuatan film cerita di Bandung.

Sepanjang perkembangannya, film Indonesia mengalami banyak periode.

Periode Coba-coba (1926-1937)
Pembuatan film cerita yang dimulai di Bandung ketika itu, mengalami kesulitan yang amat berat. Sebab, harus berhadapan dengan film-film import yang telah lebih dulu menguasai pasar. Belum lagi proses pembuatan film asing yang dilakukan secara besa-besaran.


Sementara film kita harus merayap-rayap menjamah bioskop pinggiran sambil mencari-cari apa yang sebenarnya diinginkan oleh publik ketika itu. Maka, dicobalah bermacam-macam bentuk dan cerita. Film Nasional mengalami masa kering yang panjang dan penuh pengorbanan.

Film Bisu (1926-1930)
Usaha pembuatan film cerita dimulai (meski masih secara bisu) oleh Kruger dengan judul “Loe-toeng Kasaroeng” (1926), kemudian disusul oleh Carli, keduanya adalah peranakan Belanda: tinggal dan membuka usaha di Bandung.

Tahun 1928 di tanah Periangan muncul pula Wong Brother’s asal Shanghai. Permunculan mereka rupanya menarik perhatian para pengusaha Cina lainnya untuk bergerak di bidang industri perfilman. Dan pada tahun 1929 berdirilah perusahaan film cerita di Jakarta bernama TAN’S FILM.

Film Bicara/Bersuara (1931)
Tahun 1929, film bicara pertama diputar; itupun film produk Amerika. Dua tahun kemudian, di Indonesia dicoba pembuatan film bersuara oleh para pembuat film di tanah air. Hebatnya, semua peralatan untuk pembuatan film bersuara dibikin sendiri di Bandung. Tentu saja kualitasnya belum terlalu bagus; namun, barangkali Indonesia lah yang pertama memulai membikin film bersuara di Asia.

Muncullah film “Nyai Dasima” (Jakarta 1931) film bersuara pertama. Disusul kemudian “Zuzter Theresia” (Bandung 1932).

Dengan masuknya suara ke dalam film memberi keuntungan tersendiri bagi penonton serta produser film. Hal itu disebabkan belum adanya penerjemah kata asing dalam film dengan bantuan teks, hingga film Indonesia lebih bisa diterima penonton kita. Penonton jadi lebih tertarik pada film buatan dalam negeri, meski suaranya sedikit berisik. Walau film produk dalam negeri banyak diminati penonton, akan tetapi belum memberi keuntungan yang memadai. Kalaupun ada untung, itupun pendapatannya baru sebatas untuk menutup biaya produksi.

(Mey.s. Dai berbagai sumber-Katalog FFI 1981)

Read More......

13.3.08

IMPROVISASI DENGAN RANGKA CERITA

Di dalam bahasa Inggris, rangka cerita itu disebut "plot". Kata itu sering dipakai di majalah kalau orang meresensi drama atau film. Adapun yang dimaksud dengan "rangka cerita", ialah garis besar cerita, atau inti cerita.

Apabila aktor ludruk, ketoprak, dagelan, lenong, atau kesenian tradisional lainya, hendak mementaskan suatu lakon, maka mereka berkumpul bersama, lalu pemimpin mereka menguraikan lakon yang dipilih. Misal, "Si Malin Kundang".


Maka diuraikan rangka ceritanya. Kemudian dibagi-bagilah peran-perannya kepada anak buahnya. Masing-masing orang yang ditunjuk segera faham apa yang ia lakukan nanti di atas pentas. Ada yang bersepakat dengan teman-temannya bagaimana nantinya jalan pertarungan, sebab memang ada adegan perkelahian. Ada lagi yang bersepakat dengan ten mainnya, agar ia diberi kesempatan untuk mengucapkan satu bait pantun. Dan, pemegang peran Ibu besepakat dengan pemegang peran Malin Kundang menganai di mana Malin Kundang berdiri, Pada saat si Ibu mengutuknya sehingga berubah menjadi batu, dan seterusnya.

Jadi sebenarnya yang 100% mereka improvisasikan hanya dialognya. Sedangkan gerakan dan kelakuan mereka diatas pentas nanti, sudah dipengaruhi oleh persepakatan dan rancangan.

Read More......

IMPROVISASI DENGAN PASANGAN

Bagaimanakah kalau dua orang yang mahir berimprovisasi bertemu dalam satu pasangan? Nah, tahap bab ini sudah sampai kesana.

Kelihatannya sulit bahwa dua orang yang masing-masing punya "karanga" sendiri bertemu dan berpasangan. Bagaimana dua karangan bisa bertemu begitu saja tanpa dirancang bersama lebih dulu? Bisa saja! Asal kedua "karangan" itu bukan karangan yang sudah seratus persen siap. Masing-masing "karangan" harus sekedar berada pada tahap permulaan saja. Ketika kedua "permulaan karangan" itu bertemu berulah keduanya berkembang menjadi satu karangan.


Bahan Latihan
1. Untuk melatih improvisasi dialog pergunakanlah adegan seperti ini :
a. Orang I terbaring sakit. Orang II datang menengok.
b. Orang I punya banyak buku, Orang II datang untuk pinjam salah satu buku itu.

2. Untuk memperdalam latihan improvisasi dengan pasangan, pergunakan soal ini :
a. Orang I berada di pentas dengan kompor. Orang II datang tidak membawa apa-apa.
b. Orang I di pentas menggigil kedinginan. Orang II datang memperlihatkan satu tas penuh barang-barang perhiasan yang berharga retusan juta rupiah.

Read More......

IMPROVISASI DENGAN PERABOTAN

Sekarang marilah kita berimprovisasi dengan perabotan. Lebih asik dan lebih menantang kemampuan daya khayal kita untuk menghubungkan diri kita dengan barang yang tak terduga.

Yang saya maksud dengan perabotan, benda apa saja yang kita jadikan alat atau perabotan di dalam kita berlakon (berakting).


Dalam permulaan berimprovisasi kamu harus benar-benar tenang dan kosong. Semua tanggapan kepada benda, harus benar-benar spontan dan segar.

Bahan Latihan
Cobalah secara berganti-gantian kamu dan teman-temanmu saling mencarikan perabotan improvisasi bagi yang sedang berlatih. Cara ini sangat bagus untuk menggalang semangat kelompok, di samping latihan berakting.

Read More......

IMPROVISASI SOLO

Improvisasi ialah ciptaan spontan seketika itu juga. Improvisasi sangat baik untuk melatih daya cipta aktor. Supaya daya cipta bisa terbuka, si aktor juga harus tidak ragu-ragu terhadap dirinya sendiri, menghilangkan rasa malu-malu yang tidak perlu; dan menghilangkan prasangka bahwa orang lain akan siap mencela dirinya. Bila ini dicapai, maka si aktor akan punya ketangkasan menanggapi apa saja. Dan, juga khayalnya akan berkembang. Dengan begitu, daya cipta akan terbuka tanpa ia sadari.


Di dalam latihan improvisasi si aktor tidak mempunyai naskah. Juga tidak punya sutradara. Ia betul-betul sendiri. Bahkan ia tidak punya persiapan apa-apa! Satu-satunya yang ia miliki hanyalah persiapan mental tersebut siatas.

Karena ia improvisasi sendirian, tanpa pasangan, maka disebut improvisasi solo.

Read More......

BERGERAK DENGAN ALASAN

Seoang yang sehari-hari lincah bergerak dengan gaya yang luwes, bila disuruh berdiri di muka kelas dan diwawancarai, akan kelihatan kikuk dan serba salah tingkah. Ia akan pegang-pegang kancing baju, atau meremas-remas tangan, atau berganti-ganti posisi berdiri, pendeknya gerakan tanpa alasan. Inilah pengaruh dari mata orang banyak yang ditunjukkan pada seseorang. Tiba-tiba orang terlalu sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Hal itu membuatnya lepas dari keadaannya yang biasa dan menyebabkan ia Tidak bisa bertingkah wajar.


Di hadapan mata ribuan penonton, seorang aktor harus bertingkah wajar dan tidak boleh melakukan gerakan yang tanpa alasan.

Diam tak bergerak tetapi rileks dan wajar, itu lebih bisa menguasai penonton, daripada terlalu banyak bergerak tetapi tanpa alasan.

Adapun alasan untuk bergerak itu ada dua sumbernya :
Pertama, alasan kewajaran.
Apabila sehabis mengucapkan kalimat, "Dingin betul hawanya !" lalu menghampiri tungku yang sedang dipakai untuk menjeram air dan memanaskan kedua telapak tangannya di situ. Atau, apabila ada telepon berdering dan si aktor menuju telepon itu. Atau, apabila sehabis mengucapkan kalimat, "Wah, panas betul hawa di kota ini !" lalu mengeluarkan sapu tangan dan menyeka dahinya.

Kedua, alasan kejiwaan.
Ialah alasan yang muncul dari gambaran keadaan jiwa. Misal, orang yang sedang ketakutan mengerutkan badannya; atau, orang yang sedang gemas meremas-remas tangan sendiri; orang yang tiba-tiba besedih menundukkan kepala dan bergerak menjauh dengan menyeret langkahnya; atau, orang yang meledak marah mengangkat piring dan membantingnya.

Tanpa kedua alasan itu lebih baik secara wajar sang aktor tidak bergerak. Adapun yang paling sulit itu biasanya untuk diam sementara menunggu giliran untuk berdialog. Tetapi, hal ini bisa diatasi apabila kita benar-benar mendengar dan menanggapi lingkungan kita bermain. Dan, juga apabila kita relaks.

Sikap yang relaks dan wajar, kunci semua teknik berperan. Yang dimaksud dengan relaks, ialah relaks pikiran, relaks perasaan, dan relaks seluruh otot tubuh. Dan, yang dimaksud dengan wajar ialah spontanitas yang mengandung alasan.

Aktor yang tidak relaks itu, aktor yang tidak bisa menguasai diri. Hal ini bisa diatasi apabila sang aktor bisa mengatur pernapasannya. Sebab, napas yang teratur bisa mempengaruhi ketenangan perasaan dan relaksnya otot. Dan, apabila otot relaks serta perasaan relas pula, maka dengan gampang pikiran pun akan bisa tenang.

Bahan Latihan
1. Duduklah dengan tulang pungguk tegak lurus di atas kursi. teriklah napas panjang pelan-pelan dalam delapan hitungan. Lalu, tahanlah napas itu selama selapan hitungan. Kemudian lepaskanlah pelan-pelan dari mulut dalam delapan hitungan pula. Kerjakanlah hal ini berulang kali dengan pendangan mata yang relaks tertuju pada ujung hidung sendiri.

2. Duduklah dengan tenang di kursi. Pejamkanlah matamu. Hentikanlah semua gerakanmu. Artinya, betul-betul jangan bergerak sama sekali. Dalam keadaan seperti itu dengarkanlah suara-suara dari lingkungan sekelilingmu, dalam jarak sejauh-jauhnya. Pendeknya sejauh-jauh telinga bisa mendengar. Jangan sampai tertidur! Cukup asal sudah puas menghayati ketenangan yang relaks, berhentilah.

Read More......

TEKNIK MUNCUL

Teknik muncul (the technique of entrance), yaitu tekniknya seseorang pemain untuk pertama kalinya tampil diatas pentas-pentas dalam satu sandiwara, satu babak, atau satu adegan. Barangkali ia muncul tatkala pemain-pemain yang lain sudah berada di atas pentas dalam satu adegan, barangkali ia muncul tepat waktu layar dibuka dan ia sudah ada di pentas, barangkali ia muncul seorang diri di atas pentas sebagai pembuka adegan pertama, barangkali ia baru muncul setelah babak kedua, pendeknya bagaimana ia mulai kelihatan di atas pentas, itulah yang disebut teknik muncul.


Teknik muncul itu penting artinya karena ia dilakukan dalam rangka menerbitkan kesan pertama penonton terhadap sang peran (watak yang dimainkan).

Munculnya seorang pemain akan berkesan dalam apabila ia melakukan jedah sesudah ia muncul. Penontong akan bisa lebih mengamatinya apabila pemain itu dalm keadaan tidak bergerak. Dan kehadirannya itu akan menimbulkan kesan kepada para penonton. Jedah semacam itu cukup sua tiga kejap saja. Selanjutnya ia boleh melanjutkan kegiatannya.

Demikian setelah munculnya sang pemain mendapatkan perhatian dari penonton, maka segera ia harus menjelaskan gambaran watak peran yang dimainkannya. Tentu saja ia tidak bisa memberikan gambaran watak itu dengan lengkap sekaligus untuk hal itu diperlukan perkembangan yang meyakinkan. Namun, bagaimana pun juga, sejak mulai dari detik pertama kemunculannya, ia harus berusaha mengesankan saran berupa garis-garis permulaan dari gambaran watak yang diperlukannya.

Seringkali kemunculannya seorang pemain, disampin g memberi gambaran watak yang diperankannya; diharuskan pula memberikan gambaran suasana perasaan perannya sebelum ia muncul dipanggung (off-stage mood) dan tentunya harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan cerita.

Read More......

KERASNYA UCAPAN

Sampai sekarang kita sudah mempelajari, bahwa ucapan itu harus jelas setiap suku katanya dan disamping itu harus wajar pula. Kemudian isi pikiran dan isi pikiran kalimat yang diucapkan harus jelas tercermin.

Cukup sekianlah tentang teknin ucapan? Hampir! Masih ada satu lagi, yaitu bagaimana teknik dan caranya agar suara kata-kata yang kita ucapkan bisa terdengar sampai kepada penonton yang ada di baris paling belakang.


Memang teknik ucapan di dalam seni bermain drama sangat banyak tuntutannya. Tetapi, bila kita tidak bisa memenuhi tuntutannya itu, tidak usah bermimpi untuk menjadi aktor pentas.

Adapun rahasia teknin ucapan keras itu kedengarannya gampang. Semakin banyak bagian tubuh kita yang ikut bergetar bersama selaput suara, semakin keraslah suara kita.

Memang masuk akal! Bagian tubuh yang lain yang ikut bergetar itu memberikan resonasi sehingga getaran selaput suara lebih bergema kedengarannya.

Ada orang yang sejak kecil punya bakat; kepala dan tubuhnya ikut beresonasi apabila ia berbicara, sehingga suaranya walaupun perlahan kedengaran berwibawa dan kalau keras kedengaran kuat dan dahsyat.

Tetapi hasil suara semacam itu bisa juga dicapai dengan latihan.

Marilah kita hayati getaran tenggorokan kita waktu kita menyuarakan huruf M. "Mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm................................."

Kalau kita pegang leher kita, akan terasa bahwa leher itu bergetar.

Waktu bersuara seluruh urat rongga mulut, lidah, urat tenggorokan, dan urat leher harus relaks, supaya gampang beresonasi.

Apabila betul cara kita mengucapkan M itu, maka permukaan kedua bibir kita akan terasa geli. Dan kalau kita pegang leher kita akan terasa bahwa leher itu bergetar. Demikian pula dada kita. Bahkan juga kepala kita.

Kerjakanlah latihan ini sambil berdiri. Seluruh tubuh relaks. Semakin maju latihan kita, maka seluruh batang tubuh kita akan ikut bergetar: perut, punggung, dada, pundak, semua ikut bergetar. Bahkan kalau sudah maju sekali, kaki kita pun bisa ikut bergetar.

Maka selama melakukan latihan itu, kita tidak bernafas dengan dada, tetapi bernafas dengan perut. Kekuatan suara kita tidak ditentukan urat dada, melainkan oleh urat perut.

Hayatilah dengan tenang getaran pada diri kita yang timbul sewaktu latihan. Sedikit hayati pula perkembangan yang terjadi.

Sesudah kita kuasai betul latihan dengan huruf M ini, barulah meningkat pada pengucapan kata, misal : "Mama", "Masa","Mara","Mala","Mata","Maka".

Dari jarak 20 meter kata-kata itu harus terdengar jelas seutuh-utuhnya. Kemudian dilanjutkan : "Makar","Makam","Makan","Malang","Matal",Madat","Mantap".

Dengan latihan ini benar-benar orang harus bisa mendengar dengan utuh perbedaan antara "makam" dan "makan"; antara "malam" dan "malang"; "matal" dengan "madat", dll.

Sesudah tingkatan ini kita kuasai, barulah kita maju dengan latihan mengucapkan kalimat. Dan apabila sudah sampai sini, selalu ukurannya :
• Sudah jelaskah ?
• Sudah wajarkah ?
• Sudah tercerminkah isi pikirannya atau isi perasaannya ?

Perlu dicatat di sini bahwa apabila ucapan yang kita lepas itu tidak jelas bagi pendengar yang berdiri 20 meter dari kita, maka hal itu bisa terjadi karena ucapannya kurang penuh, atau kurang jelas, atau kurang nyaring.

Maka, apabila kita hendak memperkeras suara kita, janganlah kita melakukannya dengan menjerit-jerit, mendengarkan kekuatan pada tenggorokan atau dada. Itu tidak sehat! Kita bisa sakit dada atau menderita parau. Melainkan kita harus memakai cara yang benar dan sehat, yaitu dengan mengerahkan.

Adapun latihan suara dengan huruf M itu tifak hanya dilakukan oleh para pemain sandiwara, tetapi juga oleh orang berolah kungfu. Sebab latihan semacam ini memperkuat daya konsentrasi, memperlancar peredaran darah, dan bagus untuk pencernaan.

Read More......

TEKANAN UCAPAN

Kalimat mengandung isi pikiran dan isi perasaan. Dengan tekanan ucapan tertentu, isi pikiran dan isi perasaan itu bisa ditonjolkan. Teknik tekanan ucapan ada tida macam
• Tekanan Dinamik
• Tekanan Tempo
• Tekanan Nada


Tekanan Dinamik
Tekanan dinamik ialah tekanan keras di dalam ucapan. Untuk membedakan sebuah kata yang dianggap lebih penting dari yang lain, diberi tekanan keras waktu mengucapkan kata tersebut.

”Saya tidak suka serabi!”
(Artinya ...... kalau panganan lain saya suka).
"Saya tidak suka serabi!"
(Artinya ..... kalau ibu saya suka serabi)
"Saya tidak suka serabi!"
(Artinya ..... tidak usah dibujuk lagi)
Ternyata tekanan dinamik itu berguna sekali untuk menjelaskan isi pikiran.

Tekanan Tempo
Tekanan Tempo ialah tekanan terhadap kata denagn memperlambat pengucapan kata tersebut.
"Saya tidak suka se - ra - bi !"
"Sa - ya tidak suka serabi !"
"Saya ti - dak suka serabi !"
Hasilnya seruka dengan tekanan dinamik. Kata yang diberi tekanan tempo menjadi kata yang lebih penting dari yang lainnya. Jadi tekanan tempo juga sangat berguna untuk menjelaskan isi pikiran.

Tekanan Nada
Tekanan nada, nada lagu digunakan untuk mengucapkan kata-kata. Misalnya :
"Hebat betul kau ini !"
Kalimat di atas bisa mencerminkan perasaan kagum tetapi bisa juga mencerminkan perasaan jengkel, marah, ataupun sedih, tergantung nada pengucapannya.

Coba praktekkan !
Dengan rasa kagum : "Hebat betul kau ini !"
Dengan rasa jengkel : "Hebat betul kau ini !"
Dengan rasa marah : "Hebat betul kau ini !"
Dengan rasa sedih "Hebat betul kau ini !"
Ya, ternyata tekanan nada sangat berguna untuk mencerminkan ini perasaan.

Read More......