24.5.08

Maafkan Aku Ibu

(Oleh: Nurul Kholifatur R.)

Kakiku terasa pegal banget, setelah berkeliling pasar sepulang sekolah. Aku pengen cepet-cepet nyampek rumah dan istirahat total, tapi sayang keinginan itu tak seeuai dengan kenyataan. Sampai di rumah ibu menyuruhku mengantarkan kue ke rumah Bu Rodliyah.

“Ibu nggak tahu apa kalau Ririn lagi capek, baru pulang kok udah disuruh ke rumah Bu Rodliyah, nggak mau ah,” tolakku.

“Rin, sebentar aja kok ya nak, kasihan Bu Rodliyah sudah lama menunggu kue pesanannya.” Dengan sedikit kesal aku ambil keranjang kue itu, itung-itung dari situlah aku bisa makan. Ayahku meninggal 17 tahun yang lalu.

“Assalamu’alaikum,” kataku ketika sampai di rumah Bu Rodliyah. Pintu dibuka dari dalam.

“Wa’alaikum Salam, neng cari siapa?tanya seorang pemuda di depanku.

”Anu mas, Bu Rodliyahnya ada?“ tanyaku sedikit salting.

”O pasti eneng Ririn ya, Ibu lagi pergi tapi Ibu udah titip pesa sama saya buat menerima kue yang dipesan Ibu di rumah Bu Mia yang biasa diantar anaknya,” kata Fauzi. Itulah namanya.

”Ini ya mas kuenya, saya pulang dulu udah sore,” pamitku. Fauzi hanya mengangguk.

Suatu pagi, Ibu menyuruhku kenyapu halaman tapi karena aku males, kutolah saja.

”Ibu nggak ngapa-ngapain kan, kerjain aja sendiri,” aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah ia tersinggung dengan kata-kataku. Beliau berlalu tanpa berucap kata.

”Rin, ibunya kok nggak dibantu nyanpu sendiri di halaman?” aku cuman geleng saja.

”Nggak baik lho Rin ngelamun, mendingan bantuin Ibu,” kata Fauzi padaku.

”Lagi males tahu, kalau mau bantuin Ibu udah sana pergi,”usirku.

”Ririn kok tega banget sama Ibunya,” keluh Fauzi.

Aku memang berubah, males bantuin Ibu, sukanya marah-marah terus dan Ibu diam saja. Mungkin Ibu kecewa padaku, selama ini kasih sayangnya pun berubah.

Suatu keli aku memberi kabar pada Ibuku bahwa aku diterima di UI Jakarta. Bukannya seneng, Ibu malah melarangku berangkat.

“Kamu nggak kasihan sama Ibu Rin, Ibu nggak punya siapa-siapa selain kamu. Nanti kalau Ibu sakit siapa yang ngurusin kalau bukan kamu,” katanya lembut.

”Bu, ini kesempatan Ririn buat maju, buat ngerubah hidup kita, lagian Ririn sekolah dengan beasiswa kan Bu, iya Bu ya, biarin Ririn pergi,” pintaku.

Ibu tak menjawab. Ia hanya menghapus butiran bening di matanya dan berlalu ninggalin aku gitu aja.

Aku tetap nekat berangkat, pengenku pamit sama Ibu, mencium punggung tangannya tapi Ibu menolaknya. Baru kali ini Ibu seperti ini. ”Sudahlah,” katanya menepis tanganku. Ingin kupeluk dia tapi dia menolaknya, kuputuskan pergi meski tanpa restunya.

Setelah di Jakarta aku sering mengirim surat pada Ibu, tapi Ibu tak pernah membalasnya. ”Ya Allah apa benar aku telah tergolong anak durhaka pada orang tua?” tanyaku setelah aku ingat akan semua perbuatan yang udah aku lakuin samaIbu. Kini aku menangis menyesal.

Liburan semester aku putuskan untuk pulang menengok Ibu, apapun yang aku terima nanti aku siap, demi memperoleh maafnya seorang wanita mulia dalam hidupku. Maafkan Ririn bu...... aku tercengang kaget ketika sampai rumah, ternyata Fauzi lah yang telah membantu Ibuku, membawakan keranjang-keranjang kue untuk diantar ke rumah para pemesan. Air mataku jatuh berlinang saat tahu betapa kesepiannya Ibu tanpaku, tapi kenapa aku selalu menyakitinya.....

”Biar Ririn aja bu yang bawa,” kataku tiba-tiba. Dua wajah itu meneloh padaku.

”He Rin, dua tahun di Jakarta kok nggak ada perubahan tetep sedehana dech,” kata Fauzi. Aku cuman tersenyum kutatap wajah Ibuku. ”Maafin Ririn ya bu, Ririn sadar Ririn udah terlalu banyak nyakitin hati Ibu, Ririn udah durhaka sama Ibu, mungkin Ibu benci sama Ririn tapi tolong bu, maafin Ririn.” Air mataku menganak bagai sungai. Ibupun demikian meski beliau tak berucap kata.

”Apa yang bisa ririn lakuin buat nebus salah Ririn Bu?” tanyaku sambil berlutut di depannya. Ibu memalingkan wajahnya, Ibu benar-benar sakit hati padaku.

”Jadi Ibu nggak mau maafin Ririn, percuma Ririn hidup Bu, Allah pun takkan meridhoi langkah Ririn karena engkau tak meridhoinya,”aku tertunduk penuh penyesalan.

”Kamu nggak minta maaf, Ibu sudah maafin kamu Rin,” Kata Ibu. Mataku berbinar bahagia, aku berdiri dan memeluknya. ”Makasih Ibu, Ririn janji bakal jagain Ibu.”

”Enggak nak. Kamu harus selesaikan kuliahmu.”

Fauzi tersenyum padaku. ”Rin, seorang Ibu adlaah mutiara dan taukah kamu kasih sayang Ibu tak pernah ada ujungnya.”

Aku bahagia, Ibu benar-benar wanita terbaik di dunia ini.

Read More......

15.5.08

Membaca Realitas melalui Panggung Teater

Dari Lampung

Persoalan kebangsaan yang melanda negeri ini, pada dasarnya tidak lepas dari minimnya pembacaan terhadap fenomena yang terjadi dalam realitas sosial. Banyak kalangan yang menilai, bahwa fenomena itu berdasarkan pada peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kurangnya membaca fenomena yang terjadi, menyebabkan kita tidak peka terhadap kondisi sekitar, terutama persoalan yang telah melanda negeri ini.

Realitas dapat kita pahami sebagai bentuk kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Adanya realitas, dapat dijadikan pegangan dalam membaca fenomena yang sedang atau akan terjadi di masa depan. Namun, yang perlu digarisbawahi dalam memahami realitas adalah berkaitan dengan objektivikasi persoalan aktual, yang pada akhirnya diangkat sebagai bentuk kreativitas dan keterampilan.

Memahami objektivikasi realitas sangat penting untuk diketahui secara integral, sebab pencapaian dari realitas akan diarahkan pada kepekaan individu dan sosial untuk mengembangkan lebih lanjut implikasi dari suatu persoalan. Dari kepekaaan inilah, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang valid dan mampu memberikan inspirasi untuk melahirkan karya fenomenal yang berkaitan dengan kondisi saat ini.

Dalam pandangan Maxim Gorki, seorang sastrawan asal Rusia, memahami realitas itu sebagai sebuah proses dialektis untuk menemukan kebenaran. Realitas bukanlah kebenaran itu sendiri, melainkan setitik proses menuju kebenaran. Kemampuan mengarang Gorki di sini, terletak pada kemampuan dalam membaca realitas sebagai referensi dalam memahami kehidupan yang lebih nyata.

Dalam memahami kondisi riil yang terjadi di masyarakat, kita mempunyai kelemahan dalam mengangkat realitas dalam berbagai pertunjukkan atau yang lebih dikenal dengan panggung teater. Dalam hal ini, kita seakan-akan tidak memiliki kemampuan yang utuh untuk mengangkat fenomena-fenomena yang sering berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan problem-problem kebangsaan yang sedang melanda bangsa ini.

Hal ini penting untuk kita kembangkan dan diangkat dalam sebuah pertunjukkan yang mengandung seni dan nilai-nilai moral yang dapat dijadikan referensi dalam memahami sebuah realitas. Kita mencoba melakukan terobosan baru dalam membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dialami bangsa ini Salah satunya adalah dengan media yang lebih bersifat edukatif dan inspiratif, yakni dengan memberdayakan panggung teater sebagai bentuk cerminan dalam mengkaji persoalan-persoalan yang sedang terjadi di masyarakat. Persoalan minimnya membaca realitas dalam kehidupan nyata menjadi penting untuk kita diskusikan bersama. Maka tak berlebihan, ketika perhelatan Festival Teater Jakarta (FTJ), yang dilaksanakan pada 20--31 Desember lalu, dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk merefleksikan ulang pergelaran tersebut. Dalam kondisi yang carut-marut ini, kita dituntut untuk mengangkat realitas kehidupan dalam panggung teater.

Perkembangan teater dalam konteks keindonesiaan saat ini, boleh dibilang mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini berdasarkan pada banyaknya seniman-seniman yang mulai mengembangkan panggung teater sebagai salah satu tujuan untuk membaca kondisi riil yang terjadi. Keberadaan seniman-seniman ini, paling tidak dapat membangkitkan perkembangan seni dan budaya yang ada di Indonesia.

Disadari atau tidak, panggung teater merupakan salah satu inspirasi untuk melihat secara nyata kondisi bangsa dengan berbagai fenomena yang terjadi, termasuk yang paling krusial semakin meningkatnya tindak pidana kejahatan dan musibah yang terjadi silih berganti. Panggung teater memang bukan merupakan fenomena sesungguhnya yang terjadi, tetapi dari panggung teater ini kita bisa mendapatkan inspirasi dan ide-ide segar untuk mengatasi persoalan kebangsaan.

Membaca realitas dengan panggung teater bukan berarti kita harus terjun langsung dalam kondisi sosial masyarakat. Akan tetapi, bagaimana sumbangsih kita dalam memberikan inspirasi dan solusi alternatif bagi persoalan kebangsaan yang sedang terjadi. Minimal memberikan sumbangan pemikiran atas fenomena itu ke dalam bentuk panggung teater.

Marco Kusumawijaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, pernah mengatakan bahwa mengangkat realitas adalah menjadi penting, agar panggung teater tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat. Bagaimanapun, teater harus selalu kembali pada realitas sebagai sumber inspirasi. Dengan mengangkat realitas tersebut, kita bisa menuangkan ide-ide segar yang berkaitan dengan penyelesaian persoalan bangsa yang tidak karuan.

Dalam panggung teater itu pula, kita bisa memasukkan kritik konstruktif kepada kalangan pejabat yang tidak berkompeten terhadap kinerjanya. Kita mempunyai kewajiban untuk melakukan kontrol sosial berupa masukan dan solusi dari persoalan yang menimpa pejabat pemerintahan. Dengan pesan moral yang ada dalam tema teater yang sedang dipertunjukkan, mudah-mudahan para birokrasi kita sadar terhadap tindakannya yang merugikan rakyat banyak.

Inilah salah satu nilai urgensitas panggung teater yang banyak diadakan oleh Dewan Kesenian maupun kalangan yang berkompeten terhadap perkembangan seni dan sastra di Indonesia, termasuk para penyair, sastrawan, budayawan dan seniman yang memiliki kapabilitas dalam bidang tersebut. Kita berharap, dengan pengembangan panggung teater yang ditunjukkan untuk mengangkat realitas sosial akan mampu memberikan inspirasi bagi semua pihak agar menyadari kesalahannya masing-masing, terutama yang berkaitan dengan persoalan bangsa saat ini.

- Mohammad Takdir Ilahi

Pencinta seni dan sastra, studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Read More......

Gagap Bahasa di Panggung Teater

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang banyak digunakan untuk berkomunikasi di negeri ini. Namun, kenyataan itu sepertinya tidak berlaku untuk dunia panggung. Faktanya, sangat sulit menemukan pertunjukan berbahasa Jawa yang baik, kecuali di dunia kesenian tradisional, seperti wayang atau ketoprak.

Hal tersebut bisa dibuktikan ketika Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Taman Budaya Jawa Tengah menggelar Festival Sandiwara Bahasa Jawa, Kamis dan Jumat pekan lalu. Keenam kelompok penyaji yang mewakili eks karesidenan di Jawa Tengah adalah kelompok dadakan alias diada-adakan karena ada festival. Mereka bukan merupakan teaterawan yang menjadikan pementasan berbahasa Jawa sebagai "darah daging" mereka.

"Penyelenggara sepertinya hanya mengejar seremonial tanpa memperhitungkan pembinaan sebelumnya," kata Hanindawan, tokoh teater di Solo, yang ditunjuk menjadi salah satu anggota dewan juri. Pembinaan yang dimaksud Hanindawan adalah memberikan fasilitas bagi pertumbuhan teater atau kelompok sandiwara berbahasa Jawa.

Festival itu memperlihatkan, selain Teater Gapit Solo yang eksistensinya kembang kempis, di Jawa Tengah sebenarnya tak ada lagi kelompok yang intens dengan bahasa Jawa. Walhasil, enam lakon yang dimainkan enam kelompok itu pun tergagap-gagap dengan bahasa ibu mereka sendiri. "Mereka sering kagok dengan idiom Jawa," ujar Hanindawan.

Semua kelompok penyaji yang terdiri atas anak-anak sekolah menengah atas itu memilih menggunakan pendekatan teater modern. Secara keseluruhan bisa dibilang tidak bisa ditemukan seni pertunjukan tradisi yang menjadi roh dalam pertunjukan sandiwara mereka. "Menyaksikan sandiwara berbahasa Jawa tak ubahnya melihat teater pada umumnya, hanya berganti bahasa tuturnya," kata Ayub, salah seorang penonton, memberi komentar.

Penuturan Ayub bisa dibuktikan lewat pementasan wakil dari Kabupaten Pati dengan lakon berjudul Minyik karya Dwi Riyanto. Kelompok ini sepenuhnya menggunakan pendekatan teater modern, dari set panggung hingga blocking pemain. Dalam iringan musiknya pun tak terdengar sentuhan gamelan karena mereka menggunakan organ. Mereka juga terlihat sangat ketat dengan teks, sesuatu yang tidak biasa dalam teater Jawa, yang longgar terhadap teks. "Namun, irama mereka terjaga, ditopang dengan kemampuan akting pemainnya yang merata," kata Hanindawan.

Aktor Teater Gapit, Pelog Sutrisno, menilai kelompok-kelompok penyaji terkesan berupaya mendekatkan diri dengan kultur Jawa. Ini dilakukan misalnya dengan mengusung properti orang-orang desa ke atas panggung. Cara tersebut justru membuat penampilan mereka terasa kaku dan tidak wajar. Apalagi ketika si aktor terjebak dengan ungkapan keseharian yang terkadang mencampurkan bahasa Jawa dengan ungkapan verbal yang asal-usulnya tak jelas. "Banyak penampilan mereka yang justru terjebak oleh idiom yang ingin dikesankan sebagai kultur Jawa," kata Pelog.

Kelompok dari Pati itu akhirnya dinobatkan sebagai penyaji terbaik. Sementara itu, kelompok dari Kabupaten Magelang ditetapkan sebagai penyaji terbaik kedua yang membawakan lakon Klilip karya E. Yuliastuti. Sedangkan kelompok dari Semarang, yang tampil dengan lakon Salah Pangerten, menjadi juara ketiga. "Selain pendekatan yang kagok atau tanggung, keterbatasan naskah sandiwara berbahasa Jawa merupakan persoalan tersendiri," kata Hanindawan

Terlepas dari kualitas penyelenggaraan festival tersebut, kata Hanindawan, kegiatan tahunan ini memang perlu mendapat apresiasi, kalau memang tujuannya mengembangkan bahasa Jawa berkaitan dengan seni pertunjukan. Hanya, dinas pendidikan provinsi seyogianya menyemangati pertumbuhan teater berbahasa Jawa, tidak sekadar membuat festival. "Paling tidak, festival ini memberikan kesempatan bagi penggiat teater Jawa untuk berekspresi," kata Pelog.

Imron Rosyid

Read More......

Panggung Sandiwara

Dari : LTS – Bali.

“Hiruk Pikuk Duniawi, Hanyalah Panggung Sandiwara”

Sudah sering sekali kita mendengar istilah seperti diatas, dan hal ini sering membuat orang-orang menilai bahwa di dunia ini hanyalah ilusi belaka, semua yang kita perbuat selama hidup akan kosong belaka.

Misalnya Si A yang membentuk keluarga bahagia, kaya raya, disegani teman, semua yang ada di dunia dia dapatkan. Namun saat Si A meninggal dunia, semuanya tak bisa dibawa, semua harus ditinggalkan, alias Nol / Kosong.

Apakah ini bukan Panggung Sandiwara ?, kalau memang demikian, lalu apa yang kita cari di dunia ini.

Kalau dilihat dari peran seseorang dalam panggung sandiwara, semua peran ada dan ada yang bermain dengan bagus, ada yang jelek. Bahkan pujian, penghargaan, kenangan akan didapat, baik saat berperan maupun setelah sandiwara selesai.

Nah, disini mulai terlihat bahwa bermain sandiwarapun membutuhkan keahlian, kemampuan, usaha dan sebagainya, sehingga nantinya menghasilkan suatu pujian, penghargaan, kenangan dan sebagainya. (inilah isi dari peran dalam sandiwara).

Bila dihubungkan dengan kehidupan manusia atau duniawi, dapat digambarkan seperti berikut :
Semua manusia di dunia mengenal adanya hidup setelah mati, entah itu yang menyebut ada surga dan neraka, Nirvana atau inkarnasi.

Setelah mati, orang mengenal adanya roh / sukma, atau hidup setelah mati.
Disini kalau Si A hidup, saya sebut Si A (H), maka setelah mati saya sebut Si A Sukma / Si A (S).
Saat Si A (H) hidup, dia bekerja dengan giat, banyak beramal, berbakti, dan banyak melakukan perbuatan baik, sehingga dia hidup bahagia dan kaya raya.

Setelah si A mati, memang bagi Ego Si A (H), semua yang dia dapatkan menjadi Nol / Kosong.
Tetapi tidak demikian bagi Si A (S), semua yang diperbuat oleh Si A (H) adalah bekal bagi Si A (S) untuk hidup di dunia setelah mati juga bekal untuk inkarnasi berikutnya.

Demikian pula bagi keluarga dan teman-teman si A, apa yang telah Si A perbuat, itu semua adalah berguna alias berisi bagi mereka.

Jikalau Si A (H) merasa bahwa di dunia ini kosong, mungkin Si A (H) memang Egois, bahkan tidak memikirkan kepentingan Si A (S) yang notabene adalah dirinya sendiri.

Kesimpulannya :
“HIRUK PIKUK DUNIAWI, BAGAI PANGGUNG SANDIWARA
SEAKAN TAK BERARTI, NAMUN PENUH MAKNA
BAGAIKAN ILUSI, NAMUN PENUH KENYATAAN
BUKAN LAGI KOSONG, TAPI PENUH BERISI”

Semoga kita semua bisa menapaki hidup ini dengan penuh keindahan dan memberikan kenangan indah, membawa penghargaan dan bekal untuk masa mendatang, tentunya dengan SIU TAO.

Read More......

30.3.08

Perempuan

Perempuan itu Menapaki Pasir di Pinggir Laut dengan Sepasang Kaki Telanjangnya

(Lubis Grafura)

Masihkah ada orang yang percaya bahwa di laut ada seekor putri duyung yang tiap subuh selalu muncul di pinggi laut? Di punggungnya tergerai rambut panjang yang terlepas dari sampul sanggul. Putri duyung itu menapaki pasir di pinggir laut dengan sepasang kaki telanjang, namun ombak akan segera menghapus jejak kakinya di pasir. Seolah kecantikan dan segala bukti tentang duyung itu dilipat sembunyikan oleh alam.

Ikan duyung? Dengan sepasang kai telanjang?

Pertanyaan itu yang sering muncul ketika aku mulai menceritakan hikayat seorang putri duyung yang setiap subuh selalu berjalan menelusuri pasir di pinggir laut dengan sepasang kakinya yang telanjang.



Aku kira tidak ada yang aneh dengan ceritaku. Seorang duyung memang telah menginginkan dirinya menjadi manusia, dan itu benar-benar terjadi. Toh, apa salahnya seekor hewan (kalau duyung dalam biologi memang di golongkan sebagian dari hewan, sehingga kusebut seekor bukan seseorang) hendak ingin menjadi manusia daripada manusia yang tak pernah merasa dirinya menjadi bagian dari manusia. Bukankah kehendak Gusti selalu bisa saja terjadi.

Duyung itu bisa memakai sepasang kakiny pun ekornya. Ia cukup meniupkan nafas di kepalan tangan, lalu menyentuhkan di ekornya, maka seketika itu ekor yang terbungkus dengan sisik akan berubah menjadi sepasang kaki yang indah. Dan kaki itu, aku mencerikatannya dengan berapi-api sehingga orang-orang yang mendengarkan ceritaku seolah percaya aku benar-benar melihatnya adalah sepasang kaki terindah milik seorang perempuan yang pernah kuliahat.

Sepasang kaki? Akan digunakan apa olehnya?

Ini adalah cerita yang sangat panjang. Betapa sedih atau pahitnya sebuah cerita dalam kehidupan ini, mustilah diceritakan. Pun cerita mengenai seekor putri duyung dengan sepasang kaki tenjang yang ditapakkan di pasir pinggir lautan untuk mencari ayahnya.

Ayah?

Ya, seekor duyung itu mencari ayahnya yang kini pergi entah dimana. Semenjak kecil ia tak pernah melihat ayahnya, hingga ibunya menceritakan bahwa dirinya memiliki seorang ayah. Ayahnnya adalah seorang pelaut ulung yang tak pernah takut dan gentar melawan gelombang dan hantaman badai.

Ayahnya adalah seorang lelaki yang gagah berani. Pada suatu kali perahu yang ditumpanginya menabrak sebuah karang saat badai mengaduk-aduk ombak laut.lelaki itu terdampar pada sebuah pulau kecil dan indah.

Tidak ada yang tahu persis dimana letak pulau itu, aku segera menjelaskannya daripada mengunggu mereka memotong ceritaku untuk minta dijelaskan. Petapun tak pernah melukis pulau itu. Bahkan satelit tercanggihpun tak dapat menangkap seonggok pulau yang terdapat pada cerita ini. Konon, menurut cerita, pulau itu bisa tenggelam dan muncul di permukaan. Pulau itu disebut pulau bidadari.

Pulau itu disebut pulau bidadari karena orang-orang sekitar laut itu sering melihat bidadari di atas tanah itu pada malam hari. Dan penduduk setempat lebih sering menemui kemunculan pulau itu pada saat malam bulan purnama. Kata mereka yang pernah melihatnya, di pulauitu terdapat pepohonan di tengah segunduk tanah, bebatuan halus yang tengah memancarkan cahaya rembulan, juga pasir berkilau memancarkan cahaya rembulan, juga pasir yang seputih gula tempat para duyung menjemur diri di bawah rembulan, mirip dengan turis-turis yang memanggang tubuh mereka di atas pasir.

Telanjang?

Tentu saja! Tentu mereka tidak pakai BH atau apa sejenisnyalah. Jelasnya, mereka tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Kalaupun ada Undang-undang Anti Pornografi tentu mereka akan terkena lebih dulu, begitu kata salah seorang dari orang-orang yang kini berada di depanku untuk mendengarkan cerita. Tawa memekak sejenak, tapi mereka kembali mendengarkan ceritaku.

Seseorang memntaku untuk menceritakan bagian bentuk tubuh para duyung yang sedang bertelanjang. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa duyungpun memiliki sepasang payudara dengan lingkaran punting ditengahnya, tapi mereka tidak memiliki pusar. Rambut mereka panjang, dan itu sudah menjadi kebiasaan duyung membiarkan rambutnya tergerai jatuh di atas pundahnya yang langsat. Mereka tidak punya kaki tentu saja, ya seperti yang diceritakan orang-orang bahwa duyung tak berkaki, tetapi berekor dan bersisik.

Mereka juga menstruasi setiap bulan. Kalau mereka sedang menstruasi, mereka akan berbau amis. Sudah menjadi kebiasaan para duyung , jika salah satu dari mereka sedang menstruasi, mereka harus tinggal di suatu tempat bersama duyung-duyung lainnya hingga mereka suci kembali.

Tidak ada duyung lelaki, begitu jawabku ketika salah seorang pendengar bertanya kepadaku apakah ada duyung lelaki yang menggauli pada duyung perempuan hingga mereka bisa memiliki anak. Tidak, duyung tidak punya suami, kuulangi jawabanku sekedar menegaskan kepada mereka.

Sebuah fenomena yang unik, memang. Setiap duyung akan hamil dengan sendirinyna. Seklus menstruasi itu berlangsung setiap dua bulan sekali, dan pada usia tertentu si duyung akan mengeluarkan cairan berwarna ungu, dan itu bukan darah. Itu adalah pertanda bahwa duyung tersebut sudah dewasa. Dan dua bulan berikutnya, sudah dipastikan bahwa duyung itu hamil. Dalam seumur hidup, duyyung dapat melahirkan tiga sampai empat anak.

Lalu, dimana letak rahim duyung itu?

Sama seperti letak rahim manusia, kujawab singkat pertanyaan salah satu pendengar yang sendari tadi lebih tertarik kepada ketelanjangan duyung dari pada inti ceritaku. Tapi, sebagai pencerita yang baik aku harus menjawab semua pertanyaan yang muncul di benak para pendengar.

Bisakah kau jelaskan lagi inti cerita mengenai seorang perempuan bertelanjang kaki yang menapaki pasir laut setiap subuh seorang diri dan ayahnya?

Pertanyaan ini sudah kutunggu sejak tadi. Ubun-ubunku sudah mendidih tak tahan untuk segera menceritakan kisah ini.

Ini berawal dari seorang pelaut lelaku yang gagah berani dan perahunya yang terdampar di Pulau Bidadari. Seekor duyung menemukan sesosok tubuh tengah terdampar di pasir. Duyung itu kemudian membawanya ke rumah. Dengangemetar, duyung itu menunggu lelaki itu sadar.

Ia gemetar, karena ia tahu bahwa resiko yang diambilnya terlallu besar. Ada sebuah peraturan yang musti dijalani oleh para duyung. Mereka melarang perasaan cinta kepada manusia (lebih-lebih lelaki). Itu adalah haram dan dosa. Membiarkan perasaannya mencintai lelaki, itu sebagai perilaku yang rendah di kehidupan para duyung.

Tapi perempuan itu, maksudku duyung itu mempunyai perasaan keduyungan. Seperti halnya menusia yang punya rasa kemanusiaan. Rasa keduyungannya itulah yang mengantarkan dirinya untuk berbuat hal demikian: menolong lelaki walaupun dirinya tidak boleh menyentuh, melihat atau berbicara dengan lelaki.

Setalah lelaki itu sadar, perempuan itu sangat berbahagia. Lelki itu bertanya dimanakah kini dirinya berada, dan perempuan itu sambil tersenyum menjelaskan dimana lelaki itu kini berada. Senyum itulah yang membuat lelaki itu merasa jatuh cinta.

Lelaki yang kini berada jauh dari permuakaan air itu dilarang keluar oleh duyung yang menyelamatkannya. Ia harus tinggal di sebuah cangkang raksasa hingga luka ditubuhnya pulih dan perempuan yang menolongnya beberapa waktu yang lalu itu harus naik kepermukaan air untuk mengambil udara ke dalam kantong-kantong.

Pada suatu malam, karena di permukaan laut selalu malam, perempuan itu menuang udara dari kantong untuk lelaki yang kini tinggal di rumahnya tapi entah bagaiman detail ceritanya perempuan dan lelaki itu saling bertatapan. Ada semacam kobaran api yang menjelma menjadi hasrat dalampandangan itu. Mereka bertatapan dengan nyala ragu. Putri duyung itu bibirnya menceracau untuk tidak melakukannya, tetapi tubuhnya memberikan isyarat kepada lelaki itu untuk disentuh dan diberikan seutuhnya. Dan hasrat mereka terlukis pada nyala lilin yang tertiup semilir angin.

Kuhentikan ceritaku sejenak, biarlah para pendengar melanjutkan imajinasi ini menurut pikiran masing-masing sebagai pencerita yang baik, sekali lagi aku memberikan ruang yang sebebas-bebasnya kepada pendengar untuk merangkai cerita itu menurut pengalaman diri pendengar masing-masing.

Yang terjadi selanjutnya adalah, ada salah satu duyung yang tak sengaja datang masuk ke rumah itu dan menjumpai seorang lelaki itu. Kabar melesat secepat mata angin yang dilepaskan dari busur cakrawala. Dan seluruh pulau bidadari itu gempar.

Kau harus pergi sekarang, kata duyung kepada lelaki, kau tidak aman disini. Tetapi lelaki yang gagah berani itu tidak mau meninggalkan kekasihnya seorang diri menghadapi maut yang sudah mengintai dari balik ilalang yang tumbuh didasar laut. Perempuan itu memohon, air matanya mengalir seperti mutiara yang mengalir disungai kering. Melihat bahaya dan permohonan dari mata kekasihnya, lelaki itu akhirnya menuruti apa yang diharapkan perempuan yang kini telah menjadi detak jantungnya dan udara untuk nafasnya.

Cepat, kata perempuan itu, kau harus pergi sekarang. Perempuan itu memberikan buntalan kain saputangan kepada lelaki itu dan beberapa kantung udara untuk persediaan jika ketika menuju permukaan, paru-paru dalam tubuhnya membutuhkan udara.

Sebelum sempat bertanya apa isi buntalan kain saputangan itu, perempuan itu segera menjelaskan bahwa buntalan itu terdapat puluhan mutiara, sehelai benang, dan sebuah jarum pasak laut. Ketika lelaki itu sampai di daratan duyung itu berharap bahwa lelaki itu mau menyulam mutiara itu dengan jarum dan menyatukan mutiara itu dalam satu helai benang yan g jika pada suatu hari ada seorang perempuan cantik berambut panjang yang lepas dari sampul sanggulnya dan dia berjalan dipinggir laut menapaki pasir dengan sepasang kaki telanjang saat subuh menyelimuti langit malam itu adalah pertanda bahwa perempuan itu adalah anaknya. Berikan kalung itu, kata duyung, dan nyanyikan doa ini jika anak kita belum datang.

Duhai anakku, kemarilah datanglah kepada ayah. Kehidupan laut yang kejam semoga cepat berlabuh di daratan, pulanglah kepada ayah nak, dekatkan wajahmu kepadaku, tataplah mataku aku akan mengalun gkan rangkaianmutiara dari ibumu ini di lehermu. Duhai anakku, kau lahir di dunia atas kehendak Yang Kuasa, kau tercipta atas dasar cinta. Kalaupun kau terlahir dari sepasang duyung dan manusia hina, kau adalah anakku yang terlahir tanpa dosa. Biarlah orang tua ini yang menanggung dosa yang pernah diperbuat di masa lalu, hingga malaikat dengan sepasang sayap bosan mengelilingi roda waktu.

Lelaki itu akhirnya pergi menghentakkan kakinya dan melesat keatas permukaan laut. Perempuan itu tersenyum bahagia, kalaupun di hatinya terbersit kecewa kenapa pertemuan itu selalu dibatasi oleh perpisahan, tapi perempuan itu merasa lega karena penderitaan yang kini berada di hadapannya tak perlu lagi dengan lelaki yang dicintai.

Sekelompok duyung datang sambil membawa kobaran api menyeret perempuan yang telah melakukan dosa dan zina. Tali sebesar du jari telah mengikat paksa kedua tangan duyung, pun seutas rantai telah berkalung dilehernya yang kini penuh dengan luka, sehingga tak satu matapun bisa membedakan antara bekas luka dan bekas sepasang bibir lelaki yang kini entah berada dimana.

Perempuan itu diseret dengna tangan terikat dibawa ke Batu Peradilan, disanalah keputusan akan menentukan apakah maut atau penderitaan seumur hidup yang akan menjadi garis takdirnya. Perempuan dengan tangan terikat itu didudukkan paksa hingga jatuh tersungkur di bawah kaki Raja Laut. Semua mata jatuh kepada seekor duyung yang tak berdaya. Raja Laut memandang duyung yang kini bersujud di depannya. Mukanya lebam oleh hantaman, darah segar mengalir segar bersama linangan air mata.

Raja Laut itu tak berkata apa-apa kepada duyung, ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengasingkan duyung itu di Lembah Laut. Lembah Laut adalah sebuah penjara yang seburuk-buruknya tempat. Hewan-hewan buas bisa menjelma apa saja disana. Kata semua orang, tak pernah ada yang bisa kembali dengan selamat dari tempat yang terkutuk itu.

Ceritakanlah sekarang, kami mohon.

Semua pendengar mengarahkan tatapan harapan kepadaku, setelah kukatakan kepada mereka aku tak mau melanjutkan cerita. Salah satu dari mereka ada yang menangis, terutama yang perempuan.untuk sejenak, tidak ada yang berkata. Suasana hening. Seolah daun-daun pepohonanpun terdiam menunggu keputusan yang akan keluar dari bibirku.

Ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan itu hidup atau mati. Juga lelaki yang dicintainya. Bukankah setiap cerita yang pedih sekalipun harus diceritakan, bukankah kau setuju dengan ini. Ayolah, kami menunggu nasib perempuan itu dari cerita yang keluar dari bibirmu. Kami mohon....

Setelah tiga bulan perempuan itu kembali.

Orang-orang yang kini berada di depanku itu tersenyum sementara sebelum kulanjutkan cerita, beberapa dari mereka meluapkan rasa senangnya dengan mengatakan lega kepada orang-orang di samping tempat duduknya.

Lalu?

Lalu semua penghuni laut sangat terkejut. Semua benak seolah dijejali dengan puluhan pertanyaan dan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana perempuan itu bisa lolos dari maut. Menurut cerita, perempuan itu kehilangan sebelah tangannya ketika melawan makhluk buas di Lembah Laut. Dan perempuan itu bersimpuh di depan Raja Laut. Perempuan itu sudah siap menghadapi takdir yang akan tergaris dalam hidupnya.

Raja Laut tidak menjatuhkan hukuman kepada perempuan yang saat itu sedang mengandung, tetapi Raja Laut menyuruhnya pulang menunggu bayi duyung itu terlahir, barulah perempuan itu akan diberi hukuman. Perempuan itu mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan tempatnya berdiri. Dan kabar kembali menjelma menjadi arah mata angin yang melesat dari busur cakrawala mengabarkan bahwa seorang bayi perempuan telah lahir. Dari sorot matanya, kecantikan bayi itu bakal tak ada yang bisa menandinnginya, bahkan sel;uruh penjuru samudra.

Duyung itu menepati janjinya untuk menghadap sang Raja Laut untuk menjalani hukuman. Duyung itu bersimpuh dengan bayi yang terbungkus kain tertidur didekapan dadanya. Raja Laut takjubmelihat bayi itu. Bawalah bayimu pulang, kata Raja Laut itu, lalu susuilah bayimu hingga ia tersapih dan kembalilah kau ke sini lagi.

Perempuan itu mngucapkan terimakasih dan pulang ke rumah. Ketika melihat wajah bayinya, ia melihat wajah kekasihnya yang kini entah berada dibelahan bumi mana. Tapi, sebagai seorang perempuan ia sudah mampu mempertahankan sebentuk cintanya yang badai ombak tak mampu menggoyahkan karang cintanya.

Hingga suatu waktu, perempuan itu datang kembali ke hadapan Raja Laut untuk meminta hukuman. Perempuan itu memberikan bayinya kepada seekor duyung yang telah menjadi sahabatnya semenjak kecil. Ia menitipkan bayinya dengan segenap harap dan air mata. Duyung itu mengangguk tanda mengerti. Dan hukuman musti dijalankan.

Pengawal menanam tubuh duyung itu hingga tampak leher dan kepalanya. Seluruh penghuni samudra harus melempar batu kearahnya. Batu-batu yang mengukir darah dikepalanya tidak dirasakan sebagai suatu hukuman yang pedih dan menyakitkan, tetapi adalah sebentuk cinta. Di dalam hatinya sudah dimaknai arti cinta yang sebenarnya. Cinta tidak hanya sebentuk rasa bahagia, tetapi juga segores luka lara. Hingga bebatuan terserak diatas sebuah kepala yang kini terkulai luka dan darah.

Sebuah isyarat bahwa hukuman sudah berakhir. Semua orang pergi seolah tak pernah ada yang terjadi. Duyung dengan bayi yang kini di dekapnya berlari ke arah kepala yang kini tak bernyawa. Perempuan itu menangis memeluk kepala yang bersimbah darah. Tangisanpun terpekik dari bayi yang secara naluriah merasakan apa yang disebut dengan kepedihan.

Tak pernah ada yang tahu kelanjutan cerita itu hingga kita sering melihat seorang perempuan berjalan dipinggir laut dengan rambutnya yang lepas dari sanggul dan ia berjalan dengan sepasang kaki telanjang yang ombak selalu menghapus jejak kaki itu, seolah alampun berduka dengan sebait cerita kehidupan dan menyembunyikan cerita itu di balik waktu yang berlalu. Dan jika ada yang bertanya tentang ayah perempuan itu, akan kukatakan sebagai penutup cerita, tak pernah ada yang tahu.


Read More......